HomeGeneralHarga Minyak Dunia Tembus 80 Dolar AS setelah Negosiasi dengan Iran Batal

Harga Minyak Dunia Tembus 80 Dolar AS setelah Negosiasi dengan Iran Batal

Date:

Related stories

BTS Tambah Konser Jakarta Jadi 3 Hari, Tiket Day 3 Ludes dalam 40 Menit

Kabar gembira datang untuk para penggemar BTS di Tanah...

CPNS 2026 Belum Dibuka, BKN Ingatkan Masyarakat Waspadai Hoaks Pendaftaran

Jakarta — Badan Kepegawaian Negara (BKN) menegaskan bahwa pendaftaran...

GTA V Kini Gratis Upgrade ke PS5 dan Xbox Series X/S, Rockstar Games Hapus Biaya bagi Pemain Lama

Rockstar Games kembali memberikan kejutan positif bagi jutaan pemain...

Waspadai Hantavirus: Gejala, Penularan, dan Pencegahannya

indfir.com — Hantavirus kembali menjadi perbincangan global setelah sebuah...

Gabriel Martinelli Bersinar di Piala Dunia 2026, Arsenal Gencar Incar Bradley Barcola

Winger Brasil Gabriel Martinelli terus menjadi sorotan publik sepak...
spot_imgspot_img

Harga minyak mentah global kembali melonjak menembus level 80 dolar AS per barel pada pekan ini, seiring runtuhnya harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Kegagalan perundingan di Swiss tersebut memicu kekhawatiran investor atas meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah, khususnya eskalasi konflik antara Israel dan Lebanon yang berpotensi mengganggu jalur pasokan energi utama dunia.

Negosiasi AS-Iran Runtuh di Swiss

Perundingan yang semula dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, pada pekan ini secara resmi dibatalkan setelah kedua belah pihak gagal menemukan titik temu terkait program nuklir Teheran. Utusan khusus Presiden Donald Trump sebenarnya telah diterbangkan ke Swiss untuk memimpin langsung putaran negosiasi terbaru, namun upaya diplomatik tersebut kandas di tengah perbedaan mendasar antara Washington dan Teheran.

Sumber diplomatik menyebutkan bahwa Iran menolak tuntutan AS untuk memperkaya uranium pada level yang lebih rendah sebagai prasyarat pencabutan sanksi ekonomi. Sebaliknya, Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya bersifat damai dan menuntut pencabutan seluruh sanksi tanpa kondisi tambahan. Kebuntuan ini langsung mengirimkan sinyal negatif ke pasar komoditas global.

Menurut data perdagangan, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan depan mencatat kenaikan hampir 4 persen dalam dua hari terakhir, bertengger di kisaran 81-82 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate juga mengikuti tren serupa, naik mendekati 78 dolar AS per barel.

Ketegangan Israel-Lebanon Picu Kekhawatiran Pasokan

Selain kegagalan negosiasi nuklir, eskalasi militer antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon turut menambah tekanan pada pasar energi. Serangan lintas perbatasan yang semakin intensif dalam beberapa hari terakhir meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik regional bisa meluas dan mengancam stabilitas kawasan penghasil minyak.

Analis energi menilai bahwa ancaman terbesar bagi pasar minyak saat ini adalah potensi gangguan terhadap Selat Hormuz. Selat sempit yang terletak di antara Iran dan Oman ini menjadi jalur transit bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak global. Setiap gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut dapat menyebabkan lonjakan harga yang signifikan dalam waktu singkat.

Meskipun belum ada indikasi langsung bahwa Selat Hormuz akan terganggu, pasar sudah mulai memprice-in risiko tersebut. Harga minyak yang sebelumnya sempat anjlok pada awal bulan Juni — ketika ada optimisme bahwa kesepakatan AS-Iran akan membuka kembali jalur perdagangan yang lebih aman — kini berbalik arah drastis.

Minyak Nabati Global Ikut Terdongkrak

Kenaikan harga energi fosil juga menyeret harga minyak nabati global ikut meroket. Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil di pasar berjangka Malaysia mencatat rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, diikuti oleh kedelai dan bunga matahari.

Para pelaku pasar menyebutkan bahwa korelasi antara minyak mentah dan minyak nabati semakin erat karena keduanya saling substitusi dalam produksi biodiesel. Ketika harga minyak fosil naik, permintaan terhadap bahan bakar nabati sebagai alternatif juga meningkat, sehingga mendorong harga komoditas pertanian tersebut ikut terangkat.

Di dalam negeri, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan memilih untuk tidak menaikkan harga eceran tertinggi minyak goreng rakyat atau MinyaKita meskipun tekanan biaya produksi meningkat. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa kebijakan stabilisasi pasokan akan tetap dipertahankan guna melindungi daya beli masyarakat.

Pasar Mencari Arah

Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada kemungkinan dimulainya kembali putaran negosiasi antara Washington dan Teheran. Beberapa negara mediator, termasuk Oman dan Qatar, dilaporkan masih berusaha menjembatani perbedaan antara kedua belah pihak.

Namun, para analis memperingatkan bahwa prospek kesepakatan dalam waktu dekat tampak semakin tipis. Ketegangan geopolitik yang berlapis — mulai dari program nuklir Iran, konflik Israel-Lebanon, hingga persaingan pengaruh di kawasan Teluk — membuat kalkulasi diplomasi menjadi jauh lebih kompleks.

Dalam kondisi seperti ini, volatilitas harga minyak diprediksi akan tetap tinggi setidaknya hingga akhir kuartal kedua 2026. Investor disarankan untuk mewaspadai setiap perkembangan diplomatik yang dapat mengubah sentimen pasar secara tiba-tiba, baik ke arah positif maupun negatif.

Referensi: IDNFinancials.com, detikFinance, CNN Indonesia, finance.detik.com

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here