Film live action Moana resmi tayang di bioskop Amerika Serikat sejak 8 Juli 2026 dan membuka dengan perolehan $43 juta di box office domestik. Angka tersebut dinilai mengecewakan mengingat biaya produksi yang dilaporkan mencapai $250 juta. Di sisi lain, film garapan Disney ini juga menghadapi sorotan tajam dari para kritikus yang menyebut remake ini gagal membawa sesuatu yang baru dibandingkan versi animasi tahun 2016.
Performa Box Office yang Berjalan Lambat
Sebelum penayangan perdananya, Moana sudah mengumpulkan $4,5 juta dari sesi preview. Angka tersebut sebenarnya menunjukkan antusiasme awal dari penonton, namun tidak cukup untuk mengimbangi ekspektasi studio terhadap film berbiaya raksasa ini. Perolehan $43 juta di akhir pekan pembukaan menempatkan film ini di bawah proyeksi awal sejumlah analis industri hiburan.
Dengan anggaran produksi $250 juta — belum termasuk biaya pemasaran global yang diperkirakan mencapai ratusan juta dolar tambahan — Moana perlu menempuh perjalanan panjang di box office agar bisa mencapai titik impas. Sebagian pengamat industri menyebut film ini akan sangat bergantung pada performa internasional dan penayangan jangka panjang di bioskop untuk memulihkan investasinya.
Respon Kritikus Cenderung Negatif
Para kritikus film internasional umumnya memberikan ulasan yang kurang menguntungkan untuk Moana versi live action. The Guardian menyebut film ini sebagai pengalaman yang membosankan, dengan Dwayne Johnson yang kembali memerankan demigod Maui tampak menjalani peran tanpa energi segar. Situs tersebut menilai remake ini tidak berhasil menangkap keajaiban yang membuat versi animasi dicintai penonton delapan tahun lalu.
Sementara itu, Gizmodo lebih tajam dalam penilaiannya dengan menyebut Moana sebagai contoh bagaimana tidak seharusnya sebuah film animasi klasik diadaptasi. Publikasi ini mempertanyakan alasan mendasar di balik keputusan Disney untuk membuat ulang film yang sebenarnya sudah berfungsi dengan baik dalam format animasinya.
Deadline dalam ulasannya menulis bahwa hampir tidak ada elemen berbeda yang ditawarkan Moana live action dibandingkan versi 2016, sehingga memunculkan pertanyaan mendasar tentang tujuan pembuatan film ini. Meskipun demikian, film ini berhasil meraih CinemaScore A- dari penonton, menunjukkan bahwa audiens umum masih menikmati tontonan ini meskipun para kritikus kurang terkesan.
Cerita dan Para Pemeran
Moana live action mengisahkan petualangan Moana, putri dari chief desa Motunui, yang bertekad menyeberangi lautan untuk menemukan demigod Maui. Misinya adalah mengembalikan jantung Te Fiti, makhluk dewi yang kekuatannya diperlukan untuk menyelamatkan pulau dan rakyatnya dari kutukan yang merusak kehidupan di kepulauan mereka.
Dwayne Johnson kembali memerankan Maui,角色 yang sebelumnya juga ia isi dalam versi animasi. Kehadiran Johnson dalam versi ini diharapkan menjadi daya tarik utama, meski para kritikus merasa penampilannya tidak cukup memberikan dimensi baru pada karakter yang sudah ikonik ini. Beberapa pemeran baru juga turut meramaikan film ini, membawa interpretasi segar untuk sejumlah karakter pendukung.
Kolaborasi Musik Spesial untuk Indonesia
Untuk pasar Indonesia, Disney menyiapkan kolaborasi musik yang cukup istimewa. Lyodra, Amora Lemos, dan Silet Open Up terlibat dalam pengisian lagu original soundtrack berjudul Sepanjang Jalan. Kolaborasi ini merupakan bagian dari strategi Disney untuk mendekatkan film kepada penonton lokal melalui sentuhan musisi tanah air.
Pilihan musisi ini mencerminkan upaya Disney menjangkau demografi yang lebih luas di Indonesia, di mana musik memiliki peran penting dalam penerimaan sebuah film internasional. Lagu Sepanjang Jalan diharapkan bisa menambah daya tarik film di pasar Asia Tenggara yang menjadi salah satu wilayah penting bagi performa box office internasional Moana.
Pertanyaan Seputar Strategi Remake Disney
Kegagalan Moana dalam mendapat sambutan positif dari kritikus menambah panjang daftar perdebatan seputar strategi Disney yang terus-menerus mengadaptasi film animasi klasik mereka ke format live action. Setelah berbagai film seperti The Lion King, Aladdin, Mulan, dan The Little Mermaid, pertanyaan tentang nilai tambah dari remake ini semakin keras disuarakan.
Inti perdebatannya terletak pada apakah remake live action sekadar eksploitasi nostalgia atau benar-benar menawarkan perspektif baru yang berarti. Dalam kasus Moana, sebagian besar ulasan menunjukkan bahwa film ini lebih terasa sebagai replika visual daripada interpretasi ulang yang bermakna. Penonton yang sudah familiar dengan versi animasi mungkin tidak menemukan alasan kuat untuk kembali menyaksikan cerita yang sama dalam format berbeda ini.
Bagi Disney, tantangan ke depan bukan hanya mengembalikan biaya produksi Moana, tetapi juga menjawab pertanyaan strategis tentang arah franchise remake mereka. Apakah studio akan terus melanjutkan formula ini, atau mulai mencari pendekatan yang lebih berani dalam mengadaptasi karya-karya animasi mereka ke layar lebar.
Referensi: Deadline, The Guardian, Gizmodo, deadline.com

