HomeGeneralPemadaman Bergilir Kalbar Makin Parah, Rumah Sakit hingga Pelaku Usaha Desak PLN...

Pemadaman Bergilir Kalbar Makin Parah, Rumah Sakit hingga Pelaku Usaha Desak PLN Bertanggung Jawab

Date:

Related stories

Klaim Kennedy Selamatkan Vaksin, Ini Penjelasan Dokter MAHA

Latar Belakang Gerakan MAHA dan Janji Awal Gerakan kesehatan yang...

Hugh Jackman di Drama HBO 2019 Layak Oscar

Dalam lanskap industri perfilman Hollywood, terdapat paralel yang menarik...

DeFi Jadi Infrastruktur Kritis Keuangan Digital

Transformasi Lanskap Keuangan Global Perkembangan teknologi internet telah mengubah secara...

Antrean IPO Mesir Melonjak, Kairo Kejar Modal Swasta

Akselerasi Penjualan Aset Negara di Bawah Payung Reformasi IMF Pemerintah...

Pertama Kali? Sistem Biner Hasilkan Dua Sisa Supernova

Terobosan Astronomi: Sistem Biner Pertama yang Menghasilkan Dua Sisa...

Pemadaman listrik bergilir di Kalimantan Barat memasuki fase kritis seiring dengan meluasnya keluhan dari masyarakat, pelaku usaha, hingga instansi pelayanan publik. PLN Kalimantan Barat mengakui bahwa gangguan suplai listrik ini disebabkan oleh terbatasnya pasokan batu bara untuk pembangkit listrik, dan perusahaan pelat merah tersebut kini tengah mempercepat upaya pemulihan hingga 11 Juli 2026.

Namun, di tengah janji pemulihan tersebut, dampak pemadaman terus terasa di berbagai sektor. Rumah sakit, hotel, pasar, hingga rumah tanggaordinary mengalami kesulitan akibat matinya arus listrik secara bergantian tanpa jadwal yang pasti. Situasi ini memicu gelombang protes dari organisasi masyarakat, tokoh adat, hingga akademisi yang menuntut tanggung jawab PLN.

Rumah Sakit Khawatir Keselamatan Pasien Terganggu

RSUD Ade M. Djoen di Kabupaten Sintang menyuarakan keprihatinan serius atas pemadaman bergilir yang berlangsung di wilayah tersebut. Direktur rumah sakit menyatakan bahwa setiap pemadaman listrik berpotensi mengganggu pelayanan medis, terutama pada ruang intensive care unit (ICU), ruang operasi, dan peralatan diagnostik yang bergantung pada suplai listrik stabil.

“Kami mengandalkan genset sebagai cadangan, tetapi bahan bakar solar juga memiliki keterbatasan. Ini menyangkut keselamatan nyawa pasien,” ujar perwakilan rumah sakit. Pihaknya meminta PLN memberikan jadwal pemadaman yang jelas agar rumah sakit dapat mempersiapkan antisipasi secara lebih terencana.

Risiko Korsleting dan Kebakaran Meningkat

Dinas Pemadam Kebakaran setempat menyoroti bahwa pemadaman listrik bergilir berpotensi meningkatkan risiko korsleting arus listrik. Ketika aliran listrik kembali menyala setelah padam dalam durasi tertentu, lonjakan tegangan dapat terjadi dan memicu hubungan arus pendek pada instalasi listrik yang tidak stabil.

“Masyarakat cenderung menyalakan peralatan elektronik secara bersamaan begitu listrik hidup kembali. Ini beban berlebih dan berbahaya,” ungkap petugas damkar. Ia mengimbau warga untuk mematikan peralatan listrik saat pemadaman berlangsung dan menyalakannya secara bertahap.

Dunia Usaha Rugi Puluhan Juta Rupiah

Pelaku usaha kecil dan menengah di Pontianak dan sekitarnya melaporkan kerugian material akibat pemadaman bergilir. Pedagang makanan dan minuman tidak dapat mengoperasikan kulkas dan freezer, sehingga bahan baku banyak yang rusak. Sementara itu, usaha laundry, bengkel, dan workshop terpaksa menghentikan operasional selama listrik padam.

Hotel-hotel di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, juga ikut terdampak. Penggunaan genset menyebabkan lonjakan biaya operasional karena harga bahan bakar solar yang mahal. Beberapa hotel mengaku biaya energi mereka meningkat signifikan, dan hal ini berpotensi memengaruhi tarif kamar ke depannya.

Mosi Tak Percaya dan Tuntutan Kompensasi

Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Sanggau secara resmi menyatakan mosi tak percaya terhadap PLN terkait penanganan krisis listrik di Kalimantan Barat. Ketua MABM mengancam akan menggelar aksi demonstrasi jika pemadaman terus berlanjut tanpa solusi nyata dari pihak PLN.

Sementara itu, Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak (KBTP), Hendry Pangestu Lim, menekankan bahwa konsumen memiliki hak atas kompensasi akibat pemadaman bergilir yang mengganggu aktivitas ekonomi. “Listrik adalah kebutuhan dasar. Jika PLN tidak bisa menjamin suplai, maka konsumen berhak mendapat pengurangan tagihan atau kompensasi lainnya,” tegasnya.

Akademisi: Kurangi Ketergantungan pada Batu Bara

Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) mendesak PLN untuk mengevaluasi ketergantungan pasokan energi pada batu bara. Ia menilai bahwa krisis listrik di Kalbar adalah cerminan dari kerentanan sistem kelistrikan yang terlalu bergantung pada satu jenis sumber energi.

“PLN perlu mempercepat diversifikasi energi terbarukan, terutama tenaga surya dan angin. Kalimantan memiliki potensi besar untuk itu,” ujar sang akademisi. Ia menambahkan bahwa transisi energi bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga ketahanan suplai listrik bagi masyarakat.

Warga Beralih ke Panel Surya

Di tengah ketidakpastian suplai listrik, sejumlah warga Pontianak memilih mengambil langkah mandiri dengan memasang panel surya di atap rumah mereka. Salah satu warga melaporkan bahwa setelah beralih ke energi surya, tagihan listriknya turun hingga 40 persen dan ia tidak lagi terlalu terganggu saat pemadaman bergilir berlangsung.

“Panel surya menjadi investasi jangka panjang yang sangat membantu. Listrik tetap ada meski dari grid padam,” ujarnya. Tren ini mulai diikuti oleh warga lain yang merasa tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada suplai listrik dari PLN.

PLN Percepat Pemulihan hingga 11 Juli

PLN Kalimantan Barat menegaskan bahwa upaya pemulihan listrik sedang dikejar hingga 11 Juli 2026. Perusahaan menyatakan telah mengirimkan tambahan pasokan batu bara dan mengoptimalkan kapasitas pembangkit yang ada. Namun, mereka juga mengakui bahwa cuaca ekstrem dan kendala logistik di daerah pedalaman menjadi tantangan tambahan.

Masyarakat Kalbar kini menunggu realisasi janji pemulihan tersebut. Bagi mereka, setiap jam tanpa listrik berarti kerugian, ketidaknyamanan, dan dalam kasus rumah sakit, mempertaruhkan nyawa.

Referensi: ANTARA News, detikcom, PontianakPost, ugm.ac.id

Latest stories

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here