HomeSainsDitemukan Secara Tak Sengaja, Jamur Ini Bunuh Lumut Invasif dan Pulihkan Alam...

Ditemukan Secara Tak Sengaja, Jamur Ini Bunuh Lumut Invasif dan Pulihkan Alam Inggris

Date:

Related stories

3 Grafik Bandingkan Misi Artemis dan Apollo

Lebih dari setengah abad setelah jejak pertama manusia mengukir...

3 Cek Wajib Setelah Deploy Cloudflare Pages

3 Cek Wajib Setelah Deploy Cloudflare Pages Proses pembangunan situs web modern yang mengandalkan arsitektur static site generation sering kali menghadapi

Zoneless Angular Resmi, Performa Web Makin Cepat

Mengenal Zoneless Angular: Revolusi Performa Web Ekosistem pengembangan frontend global...

Saham BBCA Hadapi Tekanan Jual Asing, Valuasi Catat Rekor Termurah 10 Tahun

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan pergerakan...
spot_imgspot_img

Ditemukan Secara Tak Sengaja, Jamur Ini Bunuh Lumut Invasif dan Pulihkan Alam Inggris

Sebuah spesies jamur baru yang belum pernah dikenal sains telah ditemukan di Inggris — dan jamur ini memiliki kemampuan yang langka: secara selektif membasmi lumut invasif yang selama puluhan tahun merusak ekosistem asli negeri itu. Para ilmuwan menyebutnya sebagai salah satu contoh paling menarik tentang bagaimana alam bisa “melawan balik” tanpa campur tangan manusia.

Jamur itu menginfeksi heath-star moss (Campylopus introflexus), lumut asal belahan bumi selatan yang sejak 1940-an menyebar agresif di seluruh Inggris dan Eropa, mendesak lebih dari 1.000 spesies lumut asli dan mengancam habitat langka seperti hutan hujan sedang dan lahan gambut penyimpan karbon.

“Kita sering berpikir jamur itu jahat, tapi yang satu ini kita anggap sebagai pahlawan,” ujar Dr. George Greiff, ilmuwan di Amgueddfa Cymru, museum nasional Wales.

Penemuan jamur ini menambah daftar penemuan spesies baru yang menarik perhatian dunia sains di awal Juni 2026. Dalam satu hari, para peneliti berhasil mengidentifikasi organisme baru yang membawa dampak penting bagi ekosistem.

Penemuan yang Bermula dari Jalan-Jalan Santai

Empat tahun lalu, Dr. George Greiff — saat itu baru berusia 30 tahun — sedang berjalan santai di sebuah tebing di Isle of Wight, pulau di lepas pantai selatan Inggris. Matanya yang terlatih menangkap sesuatu yang aneh: gumpalan lumut yang mati dalam pola melingkar berwarna cokelat di antara tumbuhan yang masih hijau.

“Pertama kali melihatnya, saya tidak tahu itu apa. Saya buang begitu saja ke tempat sampah,” kenangnya.

Tapi Greiff terus melihat kasus serupa di tempat-tempat lain. Lumut invasif yang layu dan mati, selalu dalam pola cincin yang khas. Ia mulai mengumpulkan sampel dan membawa kolaborasi dengan ilmuwan di Inggris dan Prancis. Setelah bertahun-tahun analisis DNA sequencing, teka-teki itu akhirnya terpecahkan: penyebab kematian lumut itu adalah jamur spesies baru yang belum pernah dideskripsikan sains sebelumnya.

Jamur itu kini diberi nama “moss die-back” — dan peta persebarannya mengikuti jejak liburan Greiff sendiri. “Peta di mana kami menemukan jamur ini sekaligus peta destinasi liburan saya,” canda Greiff. Jamur itu telah ditemukan di seluruh Inggris dan Wales.

Apa Itu Heath-Star Moss dan Mengapa Berbahaya?

Heath-star moss bukan tanaman asli Inggris. Ilmuwan memperkirakan lumut ini tiba dari belahan bumi selatan sekitar 1940-an — entah secara tidak sengaja terbawa manusia atau memang sengaja diimpor. Pada 1990-an, lumut ini sudah ada di mana-mana.

“Lumut ini meledak populasinya. Pada 1930-an, yang tumbuh di sini adalah lumut-lumut asli,” jelas Greiff. “Sifatnya agresif. Saya pernah melihatnya tumbuh bahkan di atas aspal.”

Masalahnya bukan sekadar lumut ini “mengambil alih”. Heath-star moss menyebarkan spora secara masif dan bereproduksi dengan cepat, sehingga mampu mendesak lebih dari 1.000 spesies lumut native Inggris. Lumut-lumut asli ini merupakan tulang punggung habitat-habitat paling berharga di Inggris, termasuk hutan hujan sedang (temperate rainforests) dan lahan gambut (peatlands) yang berfungsi sebagai penyimpan karbon penting.

Heath-star moss adalah salah satu dari sekitar 2.000 spesies non-native yang telah dibawa ke Inggris oleh manusia — secara tidak sengaja atau sengaja. Di antara “pelanggar” paling terkenal lainnya adalah Japanese knotweed yang bisa merusak fondasi bangunan, dan rhododendron yang meninggalkan racun di tanah.

“Fairy Rings of Death” — Cara Kerja Jamur Pembasmi

Di Taman Nasional Bannau Brycheiniog, dekat Abergavenny di selatan Wales, Greiff menunjukkan apa yang ia sebut “cincin kematian” — lingkaran cokelat lumut mati yang dikelilingi tumbuhan hijau.

“Sebesar tangan saya,” katanya, membentangkan jari di atas cincin lumut mati. “Itu jamur sedang bekerja.”

Di bawah mikroskop di laboratorium Amgueddfa Cymru di Cardiff, mekanisme jamur itu terlihat jelas. Jamur menempel pada batang lumut, kemudian mengembang seperti permen kapas yang melilit stik. Jamur itu bahkan menembus sel-sel lumut dari dalam.

Pada ujung-ujung lumut yang terinfeksi, terlihat gumpalan putih kecil — tanda jamur sedang aktif mengurai sel-sel tanaman. Pola kematian yang melingkar inilah yang memberi kesan “fairy rings of death” — cincin kematian yang tampak seperti lingkaran peri.

Yang paling menarik: jamur ini selektif. Analisis Greiff sejauh ini menunjukkan bahwa moss die-back hanya menyerang heath-star moss — dan satu jenis lumut lain dalam kadar terbatas. Spesies-spesies lumut asli tidak terdampak.

Ironisnya, jamur ini merupakan kerabat dekat dari ash die-back fungus — jamur patogen yang telah membunuh hingga 80 juta pohon ash di Inggris. Tapi versi moss die-back ini justru berperan sebagai “versi baik” dari keluarga jamur yang sama.

Alam “Melawan Balik” — Contoh Langka Restorasi Alami

Greiff percaya bahwa jamur ini kemungkinan berasal dari spesies native yang berevolusi dan beradaptasi khusus untuk membunuh heath-star moss. Jika benar, ini akan menjadi contoh langka dari lingkungan yang secara alami mengembangkan pertahanan terhadap invader asing.

“Ini bisa jadi contoh langka dari lingkungan Inggris yang melawan balik,” katanya.

Biasanya, spesies invasif dikendalikan oleh manusia melalui metode yang mahal dan intensif — bahan kimia, tenaga manual, atau bahkan program kontrasepsi untuk tupai abu-abu seperti yang sedang dilakukan di Inggris. Tapi moss die-back melakukan semua itu secara gratis dan alami.

“Beberapa orang mungkin mencoba mengumpulkan lumut ini untuk menyingkirkannya, tapi itu tidak efektif. Akan sangat intensif sumber daya dan sangat mahal,” kata Greiff. “Memiliki agen pengendali biologis alami yang melakukannya untuk kita — itu sangat berharga.”

Efek positifnya sudah terlihat. Di area-area yang telah dibersihkan oleh jamur, tanaman native mulai tumbuh kembali. Greiff menunjukkan tanaman baby heather (Calluna vulgaris) kecil yang mulai tumbuh di celah-celah yang ditinggalkan lumut mati.

Di lemari koleksi Amgueddfa Cymru, Dr. Nathan Smith — Kepala Ilmu Tumbuhan dan Bumi — menunjukkan koleksi lumut tertua di Inggris, beberapa di antaranya berasal dari 1880-an. Dengan meneliti sampel-sampel kering ini, para ilmuwan berharap bisa melacak kapan persis jamur ini pertama kali muncul.

“Jamur ini memberi kesempatan untuk menyelamatkan lanskap lumut unik yang menjadi rumah bagi serangga, jamur, moluska, dan tumbuhan lainnya,” kata Smith. “Ini memberikan peluang nyata untuk melestarikan keunikan dan keindahannya.”

Relevansi untuk Indonesia: Pelajaran Biocontrol dari Inggris

Indonesia juga menghadapi tantangan serius dari spesies invasif. Eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang menutupi permukaan Danau Toba, kirinyuh (Chromolaena odorata) yang menguasai lahan pertanian, dan berbagai spesies invasif lainnya telah menjadi masalah lingkungan yang berkepanjangan.

Pelajaran dari penemuan moss die-back di Inggris relevan untuk konteks Indonesia: biocontrol alami — menggunakan musuh alami untuk mengendalikan spesies invasif — bisa menjadi pendekatan yang lebih berkelanjutan dibandingkan metode kimia atau mekanis. Seiring dengan perkembangan penelitian medis dan lingkungan yang semakin maju, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan solusi serupa.

Indonesia, sebagai negara mega-biodiversitas, memiliki potensi besar untuk menemukan agen biocontrol native sendiri. Tapi seperti di Inggris, kuncinya adalah riset biodiversitas yang mendalam, kolaborasi antar-institusi, dan kesabaran. Penemuan Greiff butuh empat tahun dari observasi awal hingga identifikasi penuh melalui DNA sequencing.

Keanekaragaman hayati Inggris termasuk yang paling terdepleted di dunia — satu dari enam spesies terancam punah. Di tengah kondisi itu, menemukan agen pengendali alami terhadap perusakan habitat adalah alasan untuk berharap. Dan bagi ilmuwan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, itu adalah pengingat bahwa alam kadang punya solusi sendiri — kalau kita cukup sabar untuk menemukannya.

“Ini menarik dalam banyak hal,” kata Greiff. “Tapi saya satu-satunya yang mencari jamur ini. Akan bagus kalau ada orang lain yang ikut mencari.”

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here