HomeSainsIsopoda Raksasa Laut Dalam Curi Gen Tahan Lapar

Isopoda Raksasa Laut Dalam Curi Gen Tahan Lapar

Date:

Related stories

Bellingham Cetak Brace Kilat, Inggris Bungkam Meksiko 2-0 di 16 Besar Piala Dunia 2026

Jude Bellingham tampil sebagai pahlawan Inggris pada babak 16...

Raul Jimenez Kembali dari Cedera Maut dan Pimpin Meksiko di Piala Dunia 2026

Raúl Jiménez kembali menjadi sorotan dunia sepak bola setelah...

Jorge Sánchez Jadi Sorotan Piala Dunia 2026, Prioritas Bertahan di Eropa

Saya tidak melihat artikel asli tentang Jorge Sánchez dalam...

Jorge Sánchez Bek Meksiko yang Bersinar di Piala Dunia 2026 dan Perburuan Transfernya

Pemain belakang tim nasional Meksiko, Jorge Sánchez, menjadi sorotan...

Cardano Melonjak 11% di Pasar Kripto Hijau

Berdasarkan data CoinDesk terkini, pasar kripto memang sedang hijau:...
spot_imgspot_img

Baik, saya sudah mendapatkan konten lengkap dari Science News. Sekarang saya akan menulis artikel dalam Bahasa Indonesia sesuai semua quality gates.

“`html

Peneliti mengungkap rahasia ketahanan luar biasa isopoda raksasa laut dalam: makhluk seukuran bola sepak ini mampu bertahan hidup tanpa makan selama bertahun-tahun berkat gen curian dari bakteri. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Cell pada 5 Juni 2026 ini membuka pemahaman baru tentang bagaimana evolusi menghasilkan adaptasi ekstrem di lingkungan paling keras Bumi.

Makhluk Raksasa dari Kedalaman Satu Kilometer

Isopoda laut dalam dari genus Bathynomus hidup di zona abisal, kedalaman lebih dari 1.000 meter di bawah permukaan laut. Di lingkungan gelap gulita dengan suhu mendekati titik beku dan sumber makanan sangat langka, crustacea ini berkembang menjadi raksasa. Beberapa spesimen mencapai panjang hampir setengah meter, jauh lebih besar dari kerabat darat mereka yang biasa disebut kutu kayu atau roly-poly.

Yang membuat mereka istimewa bukan hanya ukurannya, melainkan kemampuan bertahan hidup tanpa makanan. Catatan dari akuarium menunjukkan beberapa isopoda raksasa mampu bertahan lebih dari lima tahun tanpa makan — salah satu durasi terpanjang yang pernah tercatat pada hewan.

“Itu benar-benar luar biasa,” ujar Jianbo Yuan, ahli biologi kelautan dari Chinese Academy of Sciences di Qingdao.

Lambung Raksasa untuk Pesta Makan Jarang

Yuan dan rekan-rekannya menangkap spesimen Bathynomus jamesi menggunakan kendaraan selam dekat Pulau Hainan, Tiongkok. Mereka ingin memahami bagaimana hewan ini tumbuh besar di lingkungan yang begitu tandus.

Tim peneliti membandingkan isopoda laut dalam dengan spesies dari kedalaman 300 meter dan spesies pantai yang lebih kecil. Analisis mencakup kode genetik lengkap dan anatomi tubuh.

Hasilnya mengejutkan: isopoda raksasa memiliki lambung yang memenuhi hingga dua pertiga rongga tubuh mereka — jauh lebih besar dibandingkan spesies yang hidup di perairan lebih dangkal. Para peneliti menyimpulkan bahwa isopoda ini makan sangat jarang, namun ketika menemukan makanan, mereka makan sebanyak mungkin. Mereka menjejalkan bangkai hewan dan makhluk lambat apa pun yang bisa ditangkap.

Gen Curian dari 16 Juta Tahun Lalu

Yang lebih menarik, para ilmuwan menemukan bahwa kode genetik isopoda laut dalam mengandung salinan gen ND1 — gen metabolik yang berasal dari bakteri. Gen ini melompat dari bakteri ke leluhur isopoda lebih dari 16 juta tahun lalu, sebuah proses yang disebut transfer gen horizontal.

Gen ND1 berfungsi sebagai pengatur konsumsi energi dalam sel. Dengan gen ini, isopoda mampu memperlambat metabolisme mereka hingga sangat rendah, sehingga tubuh besar tetap berfungsi meski makanan langka. Ini menjelaskan bagaimana mereka bertahan di “gurun abisal” yang dingin dan miskin nutrisi.

Untuk menguji fungsi gen ini, para peneliti memasukkan ND1 ke dalam ikan laboratorium. Hasilnya: tingkat kelangsungan hidup saat kelaparan meningkat 37 persen. Namun efek ini hanya terjadi pada suhu dingin, sesuai dengan lingkungan habitat asli isopoda.

Domestikasi Gen dari Mikroba

Temuan ini menunjukkan bahwa evolusi tidak hanya bekerja melalui modifikasi gen yang sudah ada. Hewan juga mampu “mencuri” dan “mendomestikasi” gen dari organisme lain untuk bertahan hidup.

“Isopoda ini menunjukkan bagaimana sifat tidak hanya berkembang dari modifikasi gen, tetapi juga dengan memperoleh dan mendomestikasi gen dari mikroba,” jelas Yang Li, ahli biologi evolusi dari University of Michigan yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Li mempertanyakan apakah makhluk laut lain memiliki gen curian serupa untuk bertahan di kedalaman laut yang tidak ramah. Pertanyaan ini membuka pintu bagi penelitian lebih lanjut tentang mekanisme evolusi di ekosistem ekstrem.

Adaptasi Ekstrem di Lingkungan Paling Keras Bumi

Penelitian ini menambah pemahaman tentang bagaimana kehidupan beradaptasi di lingkungan paling keras planet ini. Transfer gen horizontal, yang sebelumnya lebih banyak dipelajari pada bakteri, ternyata juga berperan dalam evolusi hewan kompleks.

Kemampuan isopoda raksasa untuk “mencuri” solusi genetik dari bakteri dan mengintegrasikannya ke dalam sistem metabolisme mereka menunjukkan fleksibilitas evolusi yang luar biasa. Di dasar laut yang gelap dan dingin, di mana makanan datang hanya sekali dalam bertahun-tahun, setiap trik bertahan hidup sangat berharga.

Dengan lautan dalam masih menjadi salah satu frontier paling sedikit dieksplorasi di Bumi, temuan seperti ini mengingatkan bahwa masih banyak mekanisme biologis yang menunggu untuk ditemukan di kedalaman samudra.

Referensi

“`

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here