HomeSainsLedakan Bom Nuklir 1945 Menghasilkan Kristal Aneh yang Tak Bisa Dibuat di...

Ledakan Bom Nuklir 1945 Menghasilkan Kristal Aneh yang Tak Bisa Dibuat di Laboratorium

Date:

Related stories

Trailer ‘Everybody Digs Bill Evans’ Resmi Dirilis: Anders Danielsen Lie sebagai Bill Evans

Trailer Pertama "Everybody Digs Bill Evans" Resmi Dirilis Modern Films...

Meteorit yang Jatuh di New Jersey Mengandung ‘Kimia Dunia Alien’

Meteorit CM1/2 carbonaceous chondrite yang jatuh di New Jersey Juli 2024 mengandung molekul prebiotik dan cairan asin yang disebut para ilmuwan sebagai 'ki

Seberapa Volatil Saham AS di Luar Jam Bursa?

Pergerakan harga saham di bursa Amerika Serikat pada sesi...

Pack Booster Pokémon TCG Pitch Black Resmi Diluncurkan di Amazon

Pack Booster Pokémon TCG Pitch Black Resmi Diluncurkan di...

Demo Lancar, Production Hancur: Kenapa AI Agent Gagal di Dunia Nyata

57% Perusahaan Sudah Jalankan AI Agent di Production, Tapi...

Lebih dari 80 tahun setelah uji coba bom nuklir pertama di dunia, gurun New Mexico masih menyimpan kejutan ilmiah. Sebuah tim peneliti internasional berhasil mengidentifikasi jenis kristal baru yang terbentuk dari ledakan bersejarah tersebut — struktur yang tidak pernah bisa diciptakan ulang di laboratorium manapun.

Trinitite: Kaca Radioaktif dari Gurun Trinity

Pada 16 Juli 1945, proyek Manhattan meledakkan bom atom pertama di situs uji coba Trinity, gurun terpencil di New Mexico, Amerika Serikat. Ledakan itu melepaskan energi setara 25.000 ton TNT — panasnya begitu dahsyat hingga tidak hanya menguapkan menara baja tempat bom diletakkan, tetapi juga melelehkan pasir gurun dalam radius 300 meter menjadi lapisan kaca berwarna hijau pucat dan merah yang bersifat radioaktif. Material ini kemudian dikenal sebagai “trinitite.”

Selama puluhan tahun, trinitite menjadi objek studi bagi para geolog dan fisikawan. Namun penelitian terbaru mengungkap sesuatu yang benar-benar belum pernah ditemukan sebelumnya.

Kristal Clathrate yang Belum Pernah Ada

Dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal bergengsi Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), tim peneliti yang dipimpin oleh Luca Bindi dari Universitas Florence, Italia, mendokumentasikan penemuan kristal clathrate jenis baru di dalam varian langka trinitite berwarna merah darah (oxblood).

Clathrate adalah struktur kristal unik di mana satu elemen membentuk susunan seperti “sangkar” yang mengurung atom lain di dalamnya. Dalam kasus ini, atom silikon membentuk sangkar bersisi 12 dan 14 yang mengurung atom tembaga dan kalsium di dalamnya — konfigurasi yang sangat jarang ditemukan di alam, terutama untuk senyawa anorganik.

Warna merah oxblood pada trinitite ini sendiri berasal dari material menara uji dan peralatan logam yang hancur saat ledakan, lalu terperangkap di dalam kaca silikon yang meleleh.

Kondisi Ekstrem yang Tak Bisa Direplikasi

Kunci terbentuknya kristal ini adalah kondisi ekstrem yang hanya terjadi selama ledakan Trinity. Suhu yang melebihi 1.500 derajat Celsius dan tekanan yang mencapai 8 gigapaskal — setara dengan tekanan di kedalaman kerak Bumi — memaksa atom-atom ke dalam konfigurasi yang secara normal mustahil terjadi.

Inilah yang membuat kristal ini tidak bisa dibuat di laboratorium. Tidak ada fasilitas ilmiah di dunia yang mampu mereproduksi kondisi gabungan suhu dan tekanan seperti yang terjadi di ground zero ledakan nuklir pertama.

“Kami ingin mengeksplorasi lebih jauh produk-produk dari pembentukan ekstrem ini,” jelas Bindi.

Awalnya, tim peneliti menyelidiki apakah kristal clathrate ini merupakan cikal bakal dari kuasikristal (quasicrystal) yang sebelumnya pernah ditemukan pada sampel trinitite. Analisis matematis menunjukkan hal itu tidak mungkin. Namun temuan ini tetap memberikan wawasan penting tentang batas atas pembentukan mineral.

Mengapa Penemuan Ini Penting?

Menurut Bindi, peristiwa ekstrem seperti ledakan nuklir, sambaran petir, atau benturan meteor dapat menghasilkan fase dan struktur mineral baru yang memperluas pemahaman manusia tentang bagaimana materi mengatur dirinya sendiri di bawah kondisi yang melampaui batas normal.

Penemuan ini tidak hanya menambah daftar mineral yang diketahui manusia, tetapi juga membuka jendela baru tentang bagaimana materi berperilaku dalam kondisi yang sebelumnya tidak bisa dipelajari secara langsung.

Bagi dunia mineralogi, ini adalah pengingat bahwa alam — bahkan dalam bentuk destruktifnya — masih memiliki banyak rahasia yang menunggu untuk diungkap.

Sumber: Live Science, PNAS

Editor: Redaksi indfir.com

Latest stories

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here