HomeSainsNASA Pilih Blue Origin untuk Misi Bulan Pertama — Awal Moon Base...

NASA Pilih Blue Origin untuk Misi Bulan Pertama — Awal Moon Base $20 Miliar

Date:

Related stories

Jadwal Tayang Monday Night Raw Malam Ini & Info Streaming

Jadwal Tayang Monday Night Raw Malam Ini & Info...

3 Grafik Bandingkan Misi Artemis dan Apollo

Lebih dari setengah abad setelah jejak pertama manusia mengukir...

3 Cek Wajib Setelah Deploy Cloudflare Pages

3 Cek Wajib Setelah Deploy Cloudflare Pages Proses pembangunan situs web modern yang mengandalkan arsitektur static site generation sering kali menghadapi

Zoneless Angular Resmi, Performa Web Makin Cepat

Mengenal Zoneless Angular: Revolusi Performa Web Ekosistem pengembangan frontend global...
spot_imgspot_img

NASA Pilih Blue Origin untuk Moon Base $20 Miliar — Amerika Kembali ke Bulan

NASA secara resmi memilih Blue Origin milik Jeff Bezos sebagai mitra utama untuk misi bulan tak berawak pertama dalam program Moon Base senilai $20 miliar (~Rp325 triliun). Pengumuman ini disampaikan Administrator NASA Jared Isaacman di markas NASA, Washington DC, pada 26 Mei 2026 — menandai langkah paling konkret Amerika menuju kehadiran permanen di permukaan Bulan.

Keputusan ini sekaligus menegaskan kemenangan Blue Origin atas SpaceX milik Elon Musk dalam perebutan kontrak pertama program Moon Base. Kedua perusahaan raksasa luar angkasa ini akan terus bersaing untuk kontrak crew lander Artemis IV yang dijadwalkan pada 2028, dengan keputusan akhir menunggu hasil uji Artemis III di orbit Bumi rendah pada 2027. “Moon Base One akan menjadi misi lander bulan berdanakan swasta pertama dalam sejarah,” kata Isaacman dalam konferensi pers.

Program ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan misi Artemis II yang sukses pada April 2026, ketika empat astronaut mengorbit Bulan untuk pertama kalinya sejak 1972.

Tiga Misi Pertama Menuju Kutub Selatan Bulan

Program Moon Base dimulai dengan tiga misi tak berawak yang dijadwalkan meluncur pada 2026. Ketiganya menargetkan area Shackleton Connecting Ridge di kutub selatan Bulan — lokasi yang diyakini mengandung cadangan es air dan sumber daya mineral penting untuk pembangunan basis permanen.

Moon Base I — Fall 2026: Blue Origin akan menggunakan Blue Moon Mark 1 “Endurance” lander dengan kontrak senilai $188 juta (plus opsi tambahan $280,4 juta). Misi ini akan membawa instrumen SCALPSS (Stereo Cameras for Lunar Plume-Surface Studies) dan Laser Retroreflective Array sebagai panduan navigasi untuk misi-misi berikutnya.

Moon Base II — Q4 2026: Astrobotic Griffin lander yang ditembakkan via Falcon Heavy SpaceX akan membawa lebih dari 1.100 pon kargo, termasuk FLIP rover dari Astrolab. Astrolab menerima kontrak senilai $219 juta untuk pengembangan Crewed Lunar Vehicle 1 (CLV-1/FLEX) — rover berbobot sekitar 2.000 pon dengan kecepatan lebih dari 6 mph.

Moon Base III — Q4 2026: Intuitive Machines Nova-C Trinity yang menggunakan Falcon 9 akan membawa Lunar Vertex rover untuk mempelajari lunar swirls, bersama payload dari ESA dan Korea Astronomy and Space Science Institute (KASI).

Kontrak $1 Miliar — Siapa Mendapat Apa?

Total kontrak melebihi $1 miliar, dibagi ke empat perusahaan swasta dalam model pengadaan komersial terbesar dalam sejarah eksplorasi bulan:

  • Blue Origin: $188 juta (+ opsi $280,4 juta) — lander utama Moon Base I dan pengiriman Lunar Terrain Vehicles
  • Lunar Outpost: $220 juta — Rover Pegasus (kecepatan 9+ mph, autonomous/teleoperated/manual), kolaborasi dengan GM, Goodyear, dan Leidos
  • Astrolab: $219 juta — Crewed Lunar Vehicle 1 (FLEX), rover untuk mobilitas astronaut
  • Firefly Aerospace: $75 juta (subkontrak dari JPL) — Elytra spacecraft untuk misi MoonFall, membawa 4 drone “hopping” untuk memetakan area yang sulit dijangkau

Roadmap 3 Fase Menuju Pangkalan Permanen 2036

NASA menyusun rencana ambisius dalam tiga fase yang membentang lebih dari satu dekade, dengan target operasional penuh pada pertengahan 2030-an:

Fase 1 (2026–2029): 25 peluncuran, 21 pendaratan, sekitar 4 ton kargo dikirim ke permukaan Bulan. Fase ini berfokus pada demonstrasi teknologi dan persiapan infrastruktur awal — termasuk pendaratan lander, pengiriman rover, dan uji coba sistem pendukung kehidupan dasar. Tiga misi 2026 yang baru diumumkan merupakan bagian dari fase ini.

Fase 2 (2029–2032/33): 27 peluncuran, 24 pendaratan, sekitar 60.000 kg payload — pembangunan infrastruktur permanen termasuk jaringan listrik permukaan, modul habitat, dan sistem pengolahan sumber daya in-situ (ISRU) yang dapat mengekstrak air dari es lunar dan menghasilkan oksigen dari regolith bulan.

Fase 3 (2032/33–2036+): 29 peluncuran, 26 pendaratan, sekitar 150.000 kg payload — habitation permanen dan fission surface power (reaktor nuklir untuk operasi di permukaan Bulan). Pada fase ini, Moon Base diharapkan sudah mampu mendukung kehadiran manusia jangka panjang.

Secara keseluruhan, program ini mencakup sekitar 79 peluncuran, 73 pendaratan, dengan biaya $20 miliar dalam 7 tahun pertama dan diperkirakan mencapai $30 miliar dalam 11 tahun.

Blue Origin vs SpaceX — Perang Miliarder di Luar Angkasa

Keputusan NASA memilih Blue Origin untuk kontrak pertama Moon Base menambah dimensi baru dalam persaingan dua orang terkaya di dunia. Jeff Bezos dan Elon Musk, yang masing-masing membangun imperium luar angkasa mereka selama lebih dari dua dekade, kini berebut tempat di permukaan Bulan.

Blue Origin mengalami kemunduran pada April 2026 ketika muatan ketiga roket New Glenn berakhir di orbit yang salah karena anomali mesin. Namun perusahaan sudah mendapat clearance dari FAA untuk kembali terbang setelah investigasi menyeluruh. Di sisi lain, SpaceX memiliki rekam jejak yang lebih matang dengan Falcon 9 dan Falcon Heavy yang sudah ratusan kali meluncur dengan sukses, serta program Starship yang sedang dalam tahap uji terbang.

Konteks persaingan ini semakin menarik setelah misi Artemis II berhasil pada April 2026 — empat astronaut mengorbit Bulan untuk pertama kalinya sejak 1972, dalam misi selama 10 hari. “Apa yang kita mulai ini sangat menantang, dan kita tahu sangat sedikit dari total 80 jam aktivitas astronaut di permukaan Bulan selama misi Apollo,” ungkap Isaacman, menggambarkan betapa masih banyak yang belum dipahami tentang lingkungan lunar.

Lunar Gateway Dihentikan — Fokus Beralih ke Moon Base

Dalam perubahan strategi yang signifikan, NASA memutuskan untuk tidak melanjutkan Lunar Gateway — stasiun orbit Bulan yang semula menjadi bagian utama program Artemis dan telah menghabiskan miliaran dolar dalam pengembangan. Sebagai gantinya, agensi ini sepenuhnya beralih ke pendekatan Moon Base yang berfokus langsung pada pembangunan infrastruktur di permukaan Bulan.

Keputusan ini mencerminkan pergeseran filosofis dalam strategi eksplorasi NASA: dari pendekatan bertahap melalui orbit menuju kehadiran langsung di permukaan. Perubahan ini sejalan dengan target ambisius Space Reactor-1 Freedom — pesawat bertenaga nuklir yang ditargetkan untuk misi Mars pada 2028. Reaktor ini menjadi bagian dari teknologi fission surface power yang akan mengoperasikan Moon Base secara mandiri, tanpa bergantung pada pasokan dari Bumi.

Kompetisi dengan China — Race to the Moon 2.0

Di balik ambisi teknis dan komersial, tersimpan konteks geopolitik yang tak kalah penting: China berencana mendaratkan astronautnya di Bulan sebelum 2030 dan menargetkan pangkalan permanen (International Lunar Research Station) pada 2035. Program ini melibatkan kolaborasi dengan Rusia dan sejumlah negara berkembang.

Amerika Serikat ingin memastikan Moon Base beroperasi sebelum China, menjadikan program ini bukan sekadar eksplorasi ilmiah, tapi juga pertarungan pengaruh global di luar angkasa. Dengan Moon Base yang dijadwalkan mencapai “operating capability” pada 2029-2032, AS menargetkan kehadiran permanen di Bulan setidaknya 3-5 tahun lebih awal dari saingan utamanya.

Signifikansi & Apa Selanjutnya?

Pengungkapan kru Artemis III dijadwalkan pada 9 Juni 2026 — misi yang akan menjadi landasan bagi pendaratan manusia di Bulan dalam beberapa tahun ke depan. Moon Base, dalam visi Isaacman, akan menjadi “outpost pertama umat manusia di benda langit lain.”

Di sisi lain, NASA juga sedang menjalankan misi antariksa NASA lainnya seperti Wahana Psyche yang terbang melintas Mars menuju asteroid logam — menunjukkan breadth eksplorasi luar angkasa AS yang tidak hanya fokus pada Bulan.

Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang kolaborasi ilmiah melalui BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan LAPAN dalam program sains bulan. Lembaga riset Indonesia seperti Eijkman dan universitas-universitas terkemuka berpotensi berkontribusi pada aspek biologi dan material science untuk lingkungan lunar. Seiring dengan perkembangan teknologi terkini, peluang kolaborasi Indonesia dalam eksplorasi luar angkasa semakin terbuka lebar.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah manusia akan kembali ke Bulan, tapi seberapa cepat dan siapa yang akan sampai lebih dulu. Dengan Blue Origin memimpin kontrak pertama, SpaceX masih dalam persaingan ketat, dan China terus bergerak maju — race to the Moon babak baru sudah dimulai.

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here