Astronot Hong Kong Pertama Meluncur ke Angkasa via Shenzhou-23, Rekor 1 Tahun di Orbit
China berhasil meluncurkan misi Shenzhou-23 dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan pada Sabtu, 24 Mei 2026. Roket Long March-2F membawa tiga astronot menuju stasiun luar angkasa Tiangong dalam misi yang mencatatkan sejarah baru — durasi tinggal di orbit selama satu tahun penuh, rekor yang belum pernah dicapai sebelumnya oleh misi antariksa berawak mana pun di dunia.
Badan Antariksa Berawak China (CMSA) secara resmi menyatakan peluncuran ini sebagai “keberhasilan total”. Sekitar sepuluh menit setelah lepas landas, wahana Shenzhou-23 berhasil terpisah dari roket pembawa dan memasuki orbit yang telah ditentukan. Ketiga astronot dilaporkan dalam kondisi sehat dan stabil setelah melewati fase kritis peluncuran.
Rekor Durasi Tinggal di Luar Angkasa yang Belum Pernah Ada
Misi Shenzhou-23 menargetkan durasi tinggal selama 365 hari di stasiun Tiangong — satu tahun penuh di orbit Bumi. Ini merupakan lonjakan signifikan dibandingkan misi-misi berawak China sebelumnya, yang umumnya berlangsung selama enam bulan.
Zhang Jingbo, juru bicara CMSA, menegaskan bahwa misi ini bukan sekadar penggandaan dari dua misi enam bulan biasa. “Ini bukan hanya soal melipatgandakan dua misi enam bulan menjadi satu tahun,” ujarnya. “Tantangan fisiologis, psikologis, dan operasional pada durasi ini berada di level yang sama sekali berbeda.”
Rekor sebelumnya dipegang oleh kru Shenzhou-21 yang menghabiskan 204 hari di Tiangong. Dengan durasi 365 hari, misi Shenzhou-23 hampir dua kali lipat dari pencapaian tersebut. Rekor dunia saat ini untuk durasi tinggal di luar angkasa dipegang oleh kosmonot Rusia Valeri Polyakov dengan 437 hari di stasiun Mir pada 1994-1995, namun Shenzhou-23 akan menjadi misi terlama yang pernah dilakukan China dan salah satu yang terpanjang dalam sejarah antariksa modern.
Bian Qiang dari pusat pelatihan astronot China menjelaskan bahwa persiapan kru untuk misi sepanjang ini memerlukan pendekatan yang belum pernah dicoba sebelumnya. Program pelatihan yang dikembangkan mencakup peningkatan ketahanan fisik, cadangan fisiologis, ketahanan psikologis, serta kompatibilitas antaranggota kru yang harus bekerja sama dalam isolasi ekstrem selama satu tahun.
Riset Tubuh Manusia Pertama di Antariksa
Salah satu aspek paling ambisius dari misi Shenzhou-23 adalah program riset berbasis manusia pertama yang dilakukan di luar angkasa. Program ini bertujuan mengumpulkan data komprehensif tentang batas adaptasi tubuh manusia di lingkungan mikrogravitasi.
Para astronot akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis dan eksperimen yang dirancang untuk memetakan respons multi-sistem tubuh terhadap paparan luar angkasa jangka panjang. Data yang dikumpulkan akan digunakan untuk membangun “atlas tubuh” di luar angkasa — sebuah referensi ilmiah yang belum pernah ada sebelumnya.
Riset ini mencakup pemantauan kepadatan tulang, fungsi kardiovaskular, perubahan otot, respons imun, serta dampak radiasi kosmik terhadap sistem biologis. Hasil dari program ini tidak hanya relevan untuk misi antariksa masa depan, tetapi juga berpotensi memberikan wawasan baru bagi kedokteran di Bumi, terutama dalam memahami penuaan dan degenerasi jaringan.
China secara eksplisit menyatakan bahwa data dari program ini akan menjadi fondasi untuk misi berawak yang lebih jauh, termasuk ambisi pendaratan manusia di Bulan yang ditargetkan sebelum 2030.
Li Jiaying — Dari Polisi Hong Kong ke Luar Angkasa
Salah satu anggota kru Shenzhou-23 yang paling menarik perhatian adalah Li Jiaying, yang menjadi warga Hong Kong pertama dalam sejarah yang terbang ke luar angkasa. Li juga merupakan astronot perempuan keempat yang dikirim China ke orbit.
Latar belakang Li jauh dari jalur astronot konvensional. Sebelum terpilih sebagai kandidat astronot, ia berkarier sebagai petugas kepolisian di Hong Kong. Pengalaman profesionalnya di bidang penegakan hukum menjadi salah satu pertimbangan dalam proses seleksi, karena menunjukkan disiplin, kemampuan pengambilan keputusan di bawah tekanan, dan ketahanan mental — kualitas yang esensial untuk misi sepanjang satu tahun.
Kehadiran Li Jiaying di luar angkasa dipandang sebagai simbol penyatuan yang kuat bagi Hong Kong dan China daratan. Peluncuran Shenzhou-23 disaksikan langsung oleh ribuan penonton di Jiuquan, termasuk Lee Cheuk Hei Trevis, seorang pelajar yang mengaku sangat terinspirasi oleh misi ini.
“Mengetahui bahwa seseorang dari Hong Kong bisa terbang ke luar angkasa membuat saya percaya bahwa tidak ada batas bagi apa yang bisa kita capai,” ujarnya setelah menyaksikan peluncuran tersebut.
Profil Kru Shenzhou-23
Tiga anggota kru Shenzhou-23 membawa keahlian yang saling melengkapi:
Zhu Yangzhu — Komandan misi dan insinyur penerbangan. Zhu bertanggung jawab atas keseluruhan operasional wahana dan koordinasi dengan pusat kendali misi di Bumi. Pengalaman teknisnya menjadikannya pilihan utama untuk memimpin misi sepanjang satu tahun.
Zhang Zhiyuan — Pilot wahana. Zhang mengawasi manuver orbital, docking, dan semua aspek teknis terkait navigasi Shenzhou-23 menuju dan dari stasiun Tiangong.
Li Jiaying — Spesialis muatan (payload specialist). Peran utamanya adalah mengawasi dan melaksanakan eksperimen ilmiah yang akan dilakukan selama misi, termasuk program riset tubuh manusia pertama di luar angkasa.
Komposisi kru ini mencerminkan pendekatan China yang semakin mengintegrasikan spesialis non-pilot dalam misi antarika berawaknya, terutama untuk misi dengan beban eksperimen ilmiah yang tinggi.
Docking dan Serah Terima di Orbit
Setelah memasuki orbit, Shenzhou-23 akan melakukan docking otomatis dengan stasiun Tiangong. Proses docking — yang berlangsung secara otomatis tanpa intervensi manual — merupakan prosedur standar yang telah disempurnakan China melalui serangkaian misi sebelumnya.
Sesampainya di Tiangong, kru Shenzhou-23 akan melakukan serah terima dengan kru Shenzhou-21 yang sudah berada di stasiun. Proses ini mencakup transfer pengetahuan operasional, pembaruan status peralatan, dan penyerahan tanggung jawab untuk pemeliharaan stasiun.
Setelah serah terima selesai, kru Shenzhou-21 akan kembali ke Bumi, mengakhiri misi 204 hari mereka yang sebelumnya menjadi rekor durasi terpanjang China di luar angkasa. Kehadiran tumpang-tindih kru di Tiangong memastikan bahwa stasiun tetap beroperasi secara penuh selama transisi.
Apa Artinya untuk Persaingan Antariksa Global?
Misi Shenzhou-23 bukan sekadar pencapaian teknis China. Ini adalah pernyataan ambisi yang menempatkan China di posisi kompetitif yang semakin kuat dalam persaingan antariksa global.
Durasi 365 hari memberikan China data yang sangat berharga tentang ketahanan manusia di luar angkasa — informasi yang juga dikejar oleh NASA dalam program Artemis dan misi stasiun luar angkasa internasional. Dengan stasiun Tiangong yang beroperasi penuh dan kemampuan meluncurkan misi berawak secara rutin, China telah membuktikan diri sebagai kekuatan antariksa yang mandiri dan semakin matang.
Bagi kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pencapaian ini relevan dalam beberapa hal. Pertama, keberhasilan China menunjukkan bahwa negara-negara Asia bisa menjadi pemain utama dalam eksplorasi antariksa. Indonesia sendiri telah mengembangkan program satelit LAPAN dan berencana meluncurkan astronot pertamanya melalui kerja sama internasional. Data yang dihasilkan dari misi Shenzhou-23 — terutama riset adaptasi tubuh manusia — dapat menjadi referensi berharga bagi negara-negara berkembang yang mempersiapkan program antariksa mereka sendiri.
Kedua, peluang kolaborasi ilmiah antara China dan negara-negara ASEAN semakin terbuka. China telah menyatakan keterbukaannya untuk menerima astronot dari negara lain di Tiangong, dan beberapa negara Asia Tenggara telah menunjukkan minat untuk berpartisipasi.
Ketiga, dari perspektif pendidikan dan inspirasi, kisah Li Jiayang — dari kepolisian Hong Kong ke luar angkasa — membuktikan bahwa jalan menuju antariksa tidak selalu linier. Pesan ini relevan bagi generasi muda Indonesia yang bermimpi berkontribusi pada sains dan eksplorasi ruang angkasa.
Dengan Shenzhou-23, China tidak hanya memecahkan rekor. Mereka sedang menulis bab baru dalam sejarah eksplorasi manusia — dan seluruh dunia, termasuk Indonesia, sedang menyaksikan.




