Penemuan Spesies Baru dari Kalimantan
Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi mengumumkan penemuan spesies terong berduri baru dari genus Solanum yang berasal dari Kalimantan. Spesies ini diberi nama ilmiah Solanum kalimantanense T.Djarwaningsih, E.L.Agustiani & M.R.Hariri — diambil dari nama tiga anggota tim peneliti: Esthi L. Agustiani, Tutie Djarwaningsih, dan Muhammad Rifqi Hariri.
Bersama Siti Susiarti dari Pusat Riset Ekologi BRIN, keempat peneliti ini bekerja di bawah Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN. Penemuan ini dipublikasikan di jurnal internasional Taprobanica Volume 15 Nomor 1 tahun 2026 — jurnal terindeks Scopus dan Web of Science yang bersifat open access dengan lisensi CC BY.
Proses identifikasi spesies ini memakan waktu tidak singkat. Tim melakukan eksplorasi lapangan selama periode 2022 hingga 2024, mengumpulkan sampel dari berbagai lokasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Pendekatan yang digunakan bersifat integratif — menggabungkan pengamatan morfologi detail dengan analisis DNA barcoding menggunakan penanda ITS (Internal Transcribed Spacer), sebuah metode standar dalam biosistematika tumbuhan modern.
Ciri Khas yang Membedakan dari Kerabatnya
Solanum kalimantanense punya beberapa karakter morfologi yang membuatnya unik dibanding spesies terong lain dalam genus yang sama. Muhammad Rifqi Hariri menjelaskan bahwa daun spesies ini memiliki ukuran panjang dan lebar yang hampir sama — tidak seperti kebanyakan terong lain yang daunnya lebih panjang daripada lebar.
Lekukan daunnya sangat dangkal, permukaan buah matang berbulu halus dan jarang, serta ukuran buahnya lebih besar dibanding Solanum lasiocarpum atau yang lebih dikenal sebagai terong dayak. Analisis DNA menggunakan penanda ITS juga menunjukkan perbedaan genetik yang cukup signifikan dari spesies kerabat terdekatnya.
Perbedaan genetik ini penting karena dalam taksonomi tumbuhan modern, kemiripan morfologi saja tidak cukup untuk membedakan spesies — banyak spesies yang tampak serupa secara fisik ternyata berbeda secara genetik, dan sebaliknya. Kombinasi morfologi dan DNA barcoding menjadi standar emas dalam deskripsi spesies baru saat ini, memastikan bahwa S. kalimantanense benar-benar merupakan entitas biologis yang unik.
“Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah, termasuk dari kelompok tumbuhan yang telah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat,” kata Hariri.
Sudah Lama Dikenal Masyarakat Lokal
Yang menarik, S. kalimantanense sebenarnya bukan tumbuhan asing bagi masyarakat Kalimantan. Tutie Djarwaningsih menyebut tanaman ini sudah lama dikenal dengan sebutan terong asam atau terong dayak.
Buah tanaman ini umum dijumpai di pasar terapung Banjarmasin — sebuah ikon budaya Kalimantan Selatan yang sudah dikenal wisatawan mancanegara — dan kerap diolah sebagai sayuran sehari-hari oleh masyarakat lokal. Fakta bahwa tanaman yang secara ilmiah baru dideskripsikan tahun 2026 ini sudah lama menjadi bagian dari kuliner dan praktik pengobatan masyarakat adalah contoh nyata betapa pengetahuan lokal sering kali mendahului dokumentasi ilmiah formal
Esthi L. Agustiani mencatat bahwa spesies ini tumbuh di berbagai tipe tanah — mulai dari tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam — dengan rentang ketinggian 9 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut. Sebarannya mencakup beberapa wilayah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
“Wikat”: Pengobatan Kanker dari Hutan Kalimantan
Aspek paling menarik dari penemuan ini terletak pada pemanfaatan tradisional tanaman tersebut. Masyarakat di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, memanfaatkan daun dan kuncup buah S. kalimantanense sebagai obat tradisional yang dikenal dengan istilah “wikat” — digunakan dalam pengobatan kanker.
Penggunaan “wikat” ini membuka pintu pertanyaan ilmiah yang belum terjawab. Pengetahuan tentang potensi anti-kanker dari tanaman ini masih bersifat etnobotani — berdasarkan pengalaman turun-temurun masyarakat lokal, belum ada uji laboratorium yang memvalidasinya secara spesifik untuk S. kalimantanense.
Genus Solanum: Gudang Senyawa Anti-Kanker
Di sinilah konteks ilmiahnya menjadi relevan. Genus Solanum — keluarga terong-terongan yang mencakup lebih dari 1.500 spesies termasuk tomat, kentang, dan terong yang kita konsumsi sehari-hari — sudah mendapat perhatian luas dalam riset anti-kanker global selama beberapa dekade terakhir.
Senyawa aktif utama yang menjadi fokus penelitian adalah solasonine, solamargine, dan solasodine — glikoalkaloid steroid yang menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap berbagai jenis sel kanker, termasuk kanker hati, paru-paru, dan serviks. Solamargine khususnya telah diteliti kemampuannya dalam mengaktifkan reseptor kematian (death receptors) pada sel kanker, memicu mekanisme apoptosis yang tidak merugikan sel sehat di sekitarnya.
Solanum nigrum atau leunca — tanaman yang akrab di dapur Indonesia dan sering dimasak sebagai lalapan atau sayur — sudah diteliti secara ekstensif. Studi menunjukkan solasonine mampu menghambat proliferasi sel tumor, menginduksi apoptosis (kematian terprogram sel kanker), memicu ferroptosis, dan menghambat metastasis. Sebuah review ilmiah tahun 2022 yang diterbitkan di ScienceDirect mencatat bahwa semua bagian tanaman dari genus ini digunakan dalam pengobatan kanker oleh populasi indigenous di berbagai belahan dunia — dari Asia hingga Amerika Latin.
Namun, S. kalimantanense sendiri belum pernah ditelisik secara farmakologis. Ini adalah celah riset yang besar — pengetahuan “wikat” dari masyarakat Kalimantan bisa jadi merupakan petunjuk awal menuju senyawa aktif yang belum teridentifikasi.
Status Konservasi: Perlu Perlindungan
Berdasarkan kajian awal, populasi S. kalimantanense tergolong terbatas. Para peneliti menyebut spesies ini berpotensi masuk kategori Vulnerable (Rentan) menurut kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN). Artinya, diperlukan upaya konservasi dan penanganan lebih lanjut agar spesies ini tidak terancam punah sebelum potensinya benar-benar tergali.
Bagian dari Gelombang Penemuan Besar BRIN
Penemuan S. kalimantanense bukan kasus isolasi. Sepanjang 2025, BRIN mengidentifikasi 51 spesies baru — 32 fauna, 16 flora, dan 3 mikroba. Secara total, 29 spesies flora baru teridentifikasi secara ilmiah dalam periode 2025 hingga awal 2026. Kolaborasi dengan SITH ITB melalui Herbarium Bandungense juga menghasilkan 6 spesies tumbuhan endemik tambahan.
“Pendekatan integratif melalui pengamatan morfologi dan DNA barcoding membantu kami membedakan spesies ini dari kerabat dekatnya secara lebih akurat,” ujar Esthi.
Langkah Selanjutnya: Dari Hutan ke Laboratorium
Pertanyaan besar yang belum terjawab adalah: apakah daun dan kuncup S. kalimantanense benar-benar mengandung senyawa anti-kanker — dan jika ya, apakah senyawa tersebut sama atau berbeda dari solasonine yang sudah dikenal dari S. nigrum?
Jawabannya memerlukan langkah konkret: isolasi senyawa aktif dari daun dan kuncup S. kalimantanense, diikuti uji sitotoksisitas pada sel kanker di laboratorium. Jika hasilnya positif, ini bisa menjadi titik awal pengembangan obat kanker berbasis kearifan lokal Kalimantan — sebuah cerita di mana sains modern dan pengetahuan tradisional bertemu.
Untuk saat ini, S. kalimantanense tetap menjadi bukti bahwa hutan Indonesia masih menyimpan rahasia yang belum terungkap — dan setiap spesies yang terdokumentasi adalah satu langkah lebih dekat ke jawaban yang bisa mengubah hidup banyak orang.
Indonesia adalah negara megabiodiversitas dunia dengan estimasi lebih dari 30.000 spesies tumbuhan — namun hanya sekitar 60 persen yang telah teridentifikasi secara ilmiah. Setiap penemuan spesies baru bukan sekadar tambahan di jurnal sains. Ia bisa jadi menyimpan senyawa yang belum pernah dikenal, fungsi ekologis yang vital, atau kegunaan praktis yang selama ini hanya diketahui masyarakat lokal.
Kasus S. kalimantanense menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pengetahuan tradisional dan sains modern. Masyarakat Kalimantan sudah tahu tentang potensi “wikat” selama bertahun-tahun — sekarang giliran sains membuktikan dan mengembangkan apa yang sudah diketahui alam.




