Berikut artikel HTML tentang Aiemann Zahabi:
“`html
WASHINGTON, D.C. — Aiemann Zahabi siap menancapkan benderanya di panggung terbesar seni bela diri campuran dunia. Petarung asal Laval, Quebec, Kanada itu akan menghadapi mantan juara kelas bantamweight UFC, Sean “Suga” O’Malley, pada acara bersejarah UFC Freedom 250 yang digelar di South Lawn Gedung Putih, Washington D.C., Minggu 14 Juni 2026. Pertandingan ini menjadi babak penting dalam perjalanan karir Zahabi yang telah berlangsung selama 22 tahun.
Petarung berusia 38 tahun yang akrab dijuluki “Icemann” ini bukan nama baru di dunia MMA, meski namanya belum seterang rivalnya malam itu. Dengan rekor 14 kemenangan dan 2 kekalahan, Zahabi kini bertengger di peringkat keenam kelas bantamweight UFC — sebuah pencapaian yang datang setelah perjalanan berliku penuh rintangan.
Akar Tristar Gym dan Pengaruh Sang Kakak
Lahir pada 19 November 1987 dari keluarga Lebanon-Kanada, Aiemann tumbuh di bayang-bayang kakaknya, Firas Zahabi, kepala pelatih Tristar Gym — salah satu kamp MMA paling bergengsi di Amerika Utara. Tristar Gym adalah rumah bagi legenda UFC Georges St-Pierre, dan Aiemann muda tumbuh menyaksikan langsung bagaimana GSP membangun warisannya di octagon.
“Saya mulai berlatih sekitar usia 15 tahun untuk bela diri. Ayah saya berpikir itu cara yang baik untuk membangun kepercayaan diri saya dan melindungi diri dari pengganggu di sekolah,” ungkap Zahabi dalam wawancara profilnya di UFC.com. “Seiring saya semakin baik, saya mulai memiliki rasa haus untuk berkompetisi. Dan begitu saya mulai bertanding, saya jatuh cinta pada gagasan menjadi petarung profesional.”
Pada usia 16 tahun, Zahabi sudah tahu bahwa masa depannya ada di UFC. Namun, jalan menuju octagon tidaklah lurus. Ia sempat menempuh pendidikan di McGill University dengan jurusan akuntansi, tetapi setelah tahun kedua, ia mengambil keputusan besar: meninggalkan bangku kuliah dan menjadikan MMA sebagai panggilan hidup penuh waktu.
Awal Karir: Sempurna di Sirkuit Regional
Sebelum bergabung dengan UFC, Zahabi membangun reputasi dengan rekornya yang sempurna 6-0 di sirkuit regional Quebec. Seluruh kemenangannya datang melalui penghentian di ronde pertama — sebuah indikasi nyata bahwa ia memiliki sesuatu yang istimewa. Sebagai pemegang sabuk hitam Brazilian Jiu-Jitsu dan juara gulat provinsi Quebec tahun 2012, fondasi tekniknya solid dari berbagai disiplin.
Namun, bahkan sebelum karir profesionalnya dimulai, Zahabi sudah menjadi bagian dari ekosistem Tristar Gym. Ia hadir di setiap level kartu pertandingan, membantu rekan satu tim di sirkuit regional Quebec dan menjadi cornerman untuk atlet-atlet seperti Miguel Torres di panggung UFC. Pengalaman ini memberinya pemahaman mendalam tentang dinamika pertarungan level tertinggi.
Debut UFC dan Masa-Masa Sulit
Zahabi membuat debutnya di UFC Fight Night: Lewis vs. Browne melawan Reginaldo Vieira pada Februari 2017. Ia memenangkan pertarungan tersebut melalui keputusan bulat, menandai awal yang positif. Namun, ujian datang dengan cepat. Di pertarungan keduanya pada UFC 217, November 2017, ia kalah KO dari Ricardo Ramos di ronde ketiga.
Dua tahun kemudian, pada UFC Fight Night 151, Zahabi kembali menelan kekalahan melalui keputusan bulat dari Vince Morales. Dua kekalahan beruntun itu bisa saja menghancurkan karir petarung mana pun. Bagi Zahabi, itu menjadi titik balik yang memaksanya mengevaluasi kembali segalanya.
Kebangkitan: Empat Kemenangan Beruntun
Setelah masa-masa sulit, Zahabi menemukan kembali ritmenya. Pada UFC Fight Night 185, Februari 2021, ia menghancurkan Drako Rodriguez melalui KO di ronde pertama — kemenangan yang juga memberinya penghargaan Performance of the Night. Menariknya, Rodriguez gagal membuat berat badan, kelebihan 4,5 pon dari batas kelas bantamweight, dan Zahabi menerima 30 persen dari purse lawannya sebagai kompensasi.
Momentum itu berlanjut. Pada Juli 2022 di UFC on ESPN 39, ia mengalahkan Ricky Turcios, pemenang The Ultimate Fighter 29, melalui keputusan bulat. Kemudian di UFC 289, Juni 2023, yang berlangsung di kampung halamannya Kanada, Zahabi kembali menunjukkan kehebatan striking-nya dengan meng-KO Aoriqileng hanya dalam 1 menit 4 detik di ronde pertama — momen yang membuat penonton di Montreal meledak.
Seri kemenangan itu terus berlanjut dengan dominasi terhadap Javid Basharat (Maret 2024, keputusan bulat), Pedro Munhoz (November 2024, keputusan bulat), dan yang paling mengesankan: kemenangan atas legenda Brasil José Aldo di UFC 315, Mei 2025, melalui keputusan bulat. Aldo, mantan juara dunia multi-divisi, memiliki ELO rating 1157 — menjadikan kemenangan Zahabi sebagai kemenangan terbesar dalam karirnya berdasarkan metrik analitik.
Pada Oktober 2025, Zahabi menutup rangkaian impresifnya dengan kemenangan keputusan terbagi (split decision) atas Marlon Vera, petarung berbahaya asal Ekuador, di UFC Fight Night.
Statistik yang Berbicara
Angka-angka Zahabi menunjukkan seorang striker yang efektif dan efisien. Ia mendaratkan rata-rata 4,54 significant strikes per menit dengan akurasi 47 persen. Defensi striking-nya berada di angka 69 persen — menunjukkan bahwa ia tidak hanya menyerang, tetapi juga pintar bertahan. Yang menarik, takedown bukan senjata utamanya — hanya 0,12 takedown per 15 menit dengan akurasi 14 persen — mengindikasikan bahwa Zahabi adalah striker berdiri yang mengandalkan teknik pugilistik dan pergerakan kaki.
Teknik striking favoritnya adalah jab, sementara di atas matras, rear naked choke (RNC) menjadi andalannya. Dengan postur 5 kaki 8 inci (173 cm) dan jangkauan 68 inci, ia memiliki fisik standar kelas bantamweight, tetapi kompensasinya datang melalui kecepatan, timing, dan IQ pertarungan yang diasah selama lebih dari dua dekade.
Momen UFC Freedom 250
Pertarungan melawan Sean O’Malley di UFC Freedom 250 menjadi puncak simbolis dari perjalanan Zahabi. Acara yang digelar di halaman Gedung Putih ini merupakan acara bersejarah yang menandai perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat — dan Zahabi, seorang warga negara Kanada, menjadi bagian dari kartu pertarungan utamanya.
Dalam wawancara minggu pertarungan, Zahabi merangkum perjalanannya dengan kata-kata yang penuh makna: “Diri saya yang berusia 16 tahun tahu saya akan berhasil. Diri saya yang 22 tahun melompat dan mengambil kesempatan untuk menjadi profesional. Diri saya yang 30 tahun terhambat, tetapi diri saya yang 35 tahun menemukan langkahnya, dan diri saya yang 38 tahun akan menancapkan benderanya di UFC — dan itu tak terbantahkan.”
O’Malley, dengan rekor 19-3-0, datang sebagai petarung yang lebih unggul secara peringkat dan popularitas. Namun, Zahabi dikenal sebagai kuda hitam yang berbahaya. Dengan odds +300 (moderate underdog), ia tidak gentar menghadapi peran itu. Bagi petarung yang telah menghabiskan lebih dari dua dekade di bayang-bayang, momen ini — terlepas dari hasilnya — sudah merupakan kemenangan besar.
Warisan Tristar yang Berlanjut
Kisah Aiemann Zahabi adalah tentang ketekunan, kesetiaan pada proses, dan keberanian untuk mengambil jalan yang lebih panjang. Dari seorang remaja yang berlatih untuk melindungi diri dari pengganggu, hingga berdiri di panggung UFC melawan mantan juara dunia, perjalanannya mencerminkan filosofi Tristar Gym: tidak ada jalan pintas menuju greatness.
Kakaknya, Firas Zahabi, yang telah melatih nama-nama besar termasuk GSP, telah menjadi inspirasi utama sepanjang kariernya. “Saya menoleh kepada dua orang terutama: saudara saya Firas Zahabi dan Georges St-Pierre,” kata Aiemann. Warisan Tristar Gym terus hidup melalui tangan-tangan petarung seperti Aiemann — yang membuktikan bahwa dedikasi jangka panjang akhirnya membuahkan hasil.
Bagi Zahabi, apapun hasil di UFC Freedom 250, satu hal yang pasti: “Icemann” telah mencairkan keraguan siapa pun yang masih meragukannya. Pada usia 38 tahun, ia membuktikan bahwa dalam MMA — seperti dalam hidup — kadang Anda perlu berjalan lebih jauh untuk sampai ke tempat yang tepat.




