SpaceX berhasil meluncurkan roket Starship versi terbaru — generasi ketiga atau yang disebut Version 3 — dalam misi uji coba ke-12 dari Starbase, Texas, pada Jumat malam (22/5/2026). Roket setinggi 124 meter itu lepas landas tepat waktu pukul 18.30 EDT dari landasan baru, menandai tonggak penting dalam ambisi Elon Musk menjadikan Starship roket fully reusable pertama di dunia.
Peluncuran ini sempat tertunda sehari sebelumnya karena masalah teknis pada lengan penahan di menara peluncuran. Setelah perbaikan semalam, Countdown berjalan lancar dan 33 mesin Raptor 3 di bagian Super Heavy booster menyala serentak, menghasilkan daya dorong hingga 18 juta pon — dua kali lipat kekuatan roket SLS milik NASA yang dirancang untuk misi Artemis.
Apa Itu Starship Version 3?
Starship V3 bukan sekadar upgrade kecil. Ini adalah desain ulang besar-besaran dari roket yang sudah menjalani 11 uji coba sebelumnya. Versi terbaru ini menggunakan mesin Raptor generasi ketiga di seluruh bagiannya — 33 mesin di booster Super Heavy dan 6 mesin di tahap atas Starship. Tiga dari mesin tahap atas dioptimalkan khusus untuk beroperasi di ruang hampa (vacuum-optimized).
SpaceX mengklaim V3 mampu membawa muatan hingga 100 metrik ton ke orbit — kapasitas yang jauh melampaui roket operasional mana pun saat ini. Perusahaan juga membangun landasan peluncuran baru, Pad 2, yang dirancang khusus untuk menahan dampak dari peluncuran berulang roket terkuat di dunia ini.
Investasi yang ditanamkan SpaceX untuk pengembangan Starship juga luar biasa. Dalam dokumen pengajuan IPO ke SEC pada Rabu sebelum peluncuran, perusahaan mengungkapkan telah menginvestasikan lebih dari 15 miliar dolar AS untuk Starship. Pada 2025, segmen luar angkasa SpaceX mencatat rugi operasional 657 juta dolar AS, termasuk pendanaan 3 miliar dolar untuk R&D program Starship generasi berikutnya.
Bagaimana Hasil Misi Uji Coba ke-12?
Peluncuran berjalan sukses, meskipun ada beberapa masalah mesin yang perlu dicatat. Salah satu dari 33 mesin Raptor di booster mati lebih awal saat roket menembus atmosfer bawah. Di tahap atas Starship, satu mesin Raptor vacuum-optimized juga mengalami shutdown prematur. Komputer penerbangan mengkompensasi hal ini dengan menjalankan lima mesin lainnya lebih lama dari rencana semula, sehingga roket tetap mencapai lintasan sub-orbital yang acceptable.
Saat Super Heavy booster memutar balik untuk kembali ke arah Starbase menuju splashdown terkontrol di Teluk Meksiko, beberapa mesin Raptor tidak menyala sesuai rencana. Booster tidak mencapai titik splashdown yang ditargetkan dan diperkirakan jatuh lebih awal di perairan Teluk.
Di sisi lain, tahap atas Starship melakukan misi dengan baik. Roket ini berhasil melepaskan 22 simulator satelit Starlink dari dispenser yang telah ditingkatkan. Dua di antaranya dilengkapi kamera yang mengirimkan gambar Starship dari sudut pandang satelit — teknologi yang akan digunakan untuk menilai kondisi heat shield pada penerbangan mendatang. Beberapa ubin heat shield sengaja dicat putih untuk mensimulasikan ubin yang hilang dan menjadi target pengujian pencitraan.
Selama descent menuju Samudra Hindia, Starship berhasil menjalani manuver terberat — termasuk menguji batas struktural sirip belakang dan manuver banking dramatis yang akan digunakan Starship masa depan saat operasi pendaratan normal. Menjelang sampai di permukaan, dua mesin dinyalakan ulang, roket berbalik ke orientasi vertikal, dan melakukan splashdown tepat sasaran sebelum akhirnya miring, pecah, dan meledak dalam fireball spektakuler.
Dampak untuk Program Artemis dan Misi ke Mars
Pengujian Starship V3 bukan sekadar demonstrasi teknologi. Ini adalah batu pijakan kritis bagi NASA, yang membayar SpaceX untuk mengembangkan versi Starship sebagai pendarat bulan (lunar lander) dalam program Artemis. NASA berencana mengirim astronot ke permukaan Bulan mulai 2028 menggunakan Starship yang dimodifikasi.
Versi 3 Starship kini telah dilengkapi titik Attachment dan sistem transfer bahan bakar yang dibutuhkan untuk operasi pengisian bahan bakar otonom di orbit Bumi — prasyarat mutlak sebelum Starship bisa dikirim ke luar angkasa dalam. SpaceX mengatakan pengisian bahan bakar orbital pertama dalam serangkaian tes direncanakan sebelum akhir tahun ini.
Administrator NASA Jared Isaacman — yang juga mantan pilot SpaceX Crew Dragon — terbang ke Texas untuk menyaksikan peluncuran langsung. “Satu langkah lebih dekat ke Bulan… satu langkah lebih dekat ke Mars,” tulisnya di media sosial.
Relevansi untuk Indonesia
Kemajuan Starship V3 memiliki implikasi langsung bagi Indonesia. Dengan biaya peluncuran yang terus turun berkat roket reusable, akses ke orbit menjadi lebih terjangkau — membuka peluang bagi Indonesia untuk meluncurkan lebih banyak satelit komunikasi, observasi Bumi, dan misi ilmiah tanpa bergantung sepenuhnya pada penyedia asing.
LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), yang kini telah bergabung dengan BRIN, telah lama mengandalkan peluncuran roket asing untuk misi satelit. Jika Starship berhasil menjadi roket operasional dengan kapasitas 100 ton ke orbit, Indonesia bisa memanfaatkan kapasitas sisa payload yang lebih murah untuk deploying satelit mikro dan nano — sektor yang sedang tumbuh di Asia Tenggara.
Selain itu, teknologi pengisian bahan bakar orbital yang sedang dikembangkan SpaceX akan membuka jalan bagi misi antarplanet yang lebih ambisius — dan Indonesia, sebagai negara dengan wilayah strategis di ekuator, memiliki potensi sebagai lokasi peluncuran komersial masa depan jika infrastruktur dan regulasi memadai.
Apa Selanjutnya?
SpaceX belum memastikan apakah Flight 13 akan menjadi misi orbital penuh, tetapi sinyal dari perusahaan menunjukkan transisi dari uji coba sub-orbital ke misi orbital sudah dekat. Jika Flight 12 menjadi tolok ukur, versi V3 Starship berada di jalur yang tepat untuk memenuhi jadwal pengujian yang dibutuhkan NASA guna mendaratkan manusia di Bulan pada 2028.
“Selamat kepada tim SpaceX atas peluncuran Starship V3 pertama yang epik dan pendaratannya! Kalian mencetak gol untuk umat manusia,” tulis Elon Musk di X. Dengan $15 miliar yang telah diinvestasikan dan 12 uji coba di bawah sabuk, ambisi Musk untuk membuat kehidupan manusia multi-planet perlahan berubah dari fantasi menjadi roadmap teknis yang nyata.




