Bitcoin Depot Resmi Keluarkan Peringatan Bangkrut, Keraguan Bertahan 12 Bulan
Bitcoin Depot, operator ATM crypto terbesar di dunia, secara resmi menerbitkan peringatan “going concern” kepada Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat pada hari Selasa. Pernyataan tersebut menandakan adanya keraguan serius mengenai kemampuan perusahaan untuk bertahan hidup dalam 12 bulan ke depan — sinyal yang jarang dikeluarkan oleh perusahaan publik dan biasanya menjadi indikator awal potensi kebangkrutan.
Didirikan satu dekade lalu, Bitcoin Depot telah berkembang menjadi raksasa kios crypto dengan sekitar 9.000 lokasi mesin ATM yang beroperasi secara global. Namun, kini perusahaan tersebut menghadapi badai besar: gugatan hukum dari regulator negara bagian AS, penurunan pendapatan yang drastis, dan tekanan regulasi yang terus mengintensif.
SEC Filing: Keraguan Substansial, Pendapatan Anjlok 49 Persen
Dalam filing SEC-nya, Bitcoin Depot menyatakan bahwa perusahaan membutuhkan waktu tambahan untuk menyelesaikan laporan keuangan formal untuk kuartal pertama 2026. Penundaan ini dikaitkan dengan upaya penyelesaian kelemahan akuntansi internal terkait “cash in transit” — uang tunai yang sedang dalam proses transfer ke mesin ATM.
Data keuangan awal yang dirilis perusahaan menunjukkan gambaran yang suram. Pendapatan Bitcoin Depot di kuartal pertama 2026 anjlok 49 persen secara year-over-year, hanya mencapai sekitar $83,5 juta untuk periode tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret. Perusahaan mengaitkan penurunan ini dengan berkurangnya volume transaksi yang dipicu oleh perubahan regulasi dan penerapan kontrol kepatuhan yang lebih ketat.
Lebih mengkhawatirkan lagi, biaya operasional perusahaan melonjak akibat meningkatnya biaya litigasi. Bitcoin Depot membukukan kerugian bersih sebesar $9,5 juta di kuartal pertama 2026 — kontras tajam dengan keuntungan $12,2 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Posisi kas perusahaan juga menurun signifikan. Selama kuartal pertama, kas dan setara kas Bitcoin Depot turun $21,6 juta, menyisakan hanya $44 juta. Perlu dicatat bahwa kinerja terbaru ini belum diaudit atau direview oleh auditor independen.
Saham Bitcoin Depot (BTM) yang sempat anjlok hingga $2,56 pada Jumat, akhirnya ditutup naik hampir 3 persen ke level $2,86 menurut data Yahoo Finance. Namun, jika dilihat dalam perspektif satu tahun terakhir, harga saham perusahaan telah terperosok hingga 80 persen.
Gugatan Regulator Negara Bagian Menumpuk
Bitcoin Depot kini tengah melawan gugatan hukum berprofil tinggi dari jaksa agung negara bagian Massachusetts dan Iowa. Gugatan-gugatan ini menuduh perusahaan melakukan beberapa pelanggaran serius:
- Penetapan harga yang menyesatkan — Regulator mengklaim bahwa struktur biaya dan harga yang ditampilkan di ATM Bitcoin Depot tidak transparan dan membingungkan konsumen.
- Fasilitasi penipuan crypto — Perusahaan dituduh secara sadar memfasilitasi skema penipuan crypto, di mana pelaku meyakinkan korban — terutama warga lansia — untuk menyetorkan uang tunai ke mesin ATM sebelum menghilang bersama dana yang dikirim dalam bentuk digital.
- Kebijakan refund yang predator — Regulator menyoroti bahwa kebijakan pengembalian dana perusahaan sangat merugikan konsumen yang menjadi korban penipuan.
Meskipun pihak berwenang lokal telah mengambil langkah ekstrem — termasuk sheriff di Texas yang pernah menggunakan peralatan berat untuk membongkar mesin ATM Bitcoin Depot guna mengambil kembali dana korban — sebuah keputusan Mahkamah Agung Iowa tahun lalu justru memutuskan bahwa perusahaan berhak menyimpan uang tunai yang telah disetorkan.
Sebagai respons terhadap tekanan ini, Bitcoin Depot beberapa bulan lalu mengumumkan bahwa mereka akan mulai mewajibkan identitas pribadi (ID) untuk setiap transaksi di kios-kiosnya — sebuah langkah yang diambil secara sukarela untuk memperkuat kontrol kepatuhan.
Skala Masalah: Penipuan ATM Crypto Rekor Tertinggi
Kasus Bitcoin Depot bukanlah masalah terisolasi. Data yang dirilis bulan lalu oleh FBI’s Internet Crime Complaint Center (IC3) menunjukkan bahwa penipuan yang melibatkan ATM crypto mencapai rekor tertinggi pada tahun lalu, dengan kerugian yang dilaporkan sebesar $389 juta — meningkat 58 persen dibandingkan tahun 2024.
Otoritas AS secara khusus memperingatkan bahwa warga Amerika yang lebih tua menjadi kelompok yang paling rentan terhadap modus penipuan ini. Para pelaku biasanya menghubungi korban, meyakinkan mereka bahwa mereka harus menyetorkan uang tunai ke ATM crypto untuk “melindungi” aset mereka atau “memverifikasi” identitas — padahal uang tersebut langsung dikirim ke dompet digital pelaku.
Di tengah badai ini, Bitcoin Depot juga baru-baru ini mengungkapkan bahwa perusahaan menjadi korban peretasan. Sebanyak 50,9 Bitcoin — saat ini bernilai hampir $4 juta — dicuri dari perusahaan melalui pelanggaran keamanan yang memungkinkan penyerang mengakses akun crypto dan mengalirkan dana keluar.
Pasar Crypto Hari Ini — BTC & ETH Masih Bertahan di Tengah Badai
Di tengah kabar buruk dari Bitcoin Depot, pasar crypto secara keseluruhan menunjukkan ketahanan. Berdasarkan data CoinMarketCap per 17 Mei 2026:
- Bitcoin (BTC): $78.175 (+1,16% 24 jam, +3,02% 7 hari) — kapitalisasi pasar $1,57 triliun
- Ethereum (ETH): $2.182 (+1,88% 24 jam, +6,08% 7 hari) — kapitalisasi pasar $263,4 miliar
- Solana (SOL): $86,62 (+2,86% 24 jam, +6,94% 7 hari) — kapitalisasi pasar $50 miliar, menjadi salah satu altcoin yang paling kuat minggu ini
- Zcash (ZEC): $512 (+0,60% 24 jam, +13,79% 7 hari) — koin privasi terus mengalami rally kuat
Ada narasi menarik di balik pergerakan ini: sementara BTC dan ETH bergerak stabil, Zcash dan coin privasi lainnya mengalami lonjakan signifikan. Beberapa analis menduga hal ini terkait dengan meningkatnya kekhawatiran privasi di kalangan pengguna crypto, terutama di tengah perdebatan regulasi AML yang sedang berlangsung di Kongres AS.
Perkembangan Crypto Lainnya yang Perlu Diperhatikan
Strategy (MicroStrategy) Siap Lepas Utang $1,5 Miliar
Strategy (sebelumnya MicroStrategy) mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka sedang mengambil langkah besar untuk mengurangi beban utang konvertibelnya. Perusahaan telah menandatangani kesepakatan untuk membeli kembali $1,5 miliar obligasi konvertibel yang jatuh tempo pada 2029. Strategy memperkirakan akan membayar sekitar $1,38 miliar untuk melunasi utang yang awalnya digunakan untuk menambah cadangan crypto pada November 2024.
Co-founder dan Executive Chairman Michael Saylor mengisyaratkan kemungkinan penjualan Bitcoin untuk mendanai pembelian kembali ini — langkah yang akan menjadi penjualan BTC pertama yang dilakukan perusahaan secara eksplisit untuk tujuan tersebut.
IREN, Penambang Bitcoin yang Berubah Haluan ke AI
IREN Limited, perusahaan penambang Bitcoin, mengumumkan penutupan penawaran obligasi konvertibel senilai $3 miliar. Dana ini akan digunakan untuk mempercepat transformasi perusahaan dari penambangan cryptocurrency ke layanan infrastruktur AI. Obligasi konvertibel ini membawa kupon tahunan 1 persen dan jatuh tempo pada 2033, dengan premium konversi 32,5 persen di atas harga saham IREN.
CLARITY Act: Perdebatan AML Crypto di Kongres
Di Washington, RUU CLARITY Act terus memicu perdebatan sengit di Kongres AS. RUU ini bertujuan untuk memperjelas kerangka regulasi anti-money laundering (AML) untuk industri crypto. Para pendukung berpendapat bahwa kejelasan regulasi akan melindungi konsumen dan mendorong inovasi, sementara kritikus khawatir aturan yang terlalu ketat akan mencekik industri yang sedang berkembang.
Pemungutan suara atas RUU ini diperkirakan akan menjadi salah satu momen penentu bagi masa depan regulasi crypto di Amerika Serikat — dan dampaknya akan terasa hingga ke pasar global, termasuk Indonesia.
Apa yang Perlu Diperhatikan Trader Crypto Indonesia
Kasus Bitcoin Depot memberikan pelajaran penting bagi trader dan investor crypto di Indonesia. Berikut beberapa poin yang perlu diperhatikan:
Pertama, pilih platform yang teregulasi. Di Indonesia, Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) adalah regulator yang mengawasi perdagangan crypto. Pastikan Anda hanya menggunakan exchange yang terdaftar dan diawasi oleh Bappebti untuk meminimalkan risiko penipuan dan masalah hukum.
Kedua, diversifikasi on-ramp dan off-ramp. Jangan bergantung pada satu saluran saja. Kombinasi antara exchange resmi, platform peer-to-peer (P2P), dan metode lainnya memberikan fleksibilitas dan mengurangi risiko jika salah satu saluran mengalami masalah.
Ketiga, waspadai regulasi global. Regulasi crypto di Amerika Serikat — seperti CLARITY Act — bisa berdampak global pada likuiditas dan harga. Trader Indonesia perlu memantau perkembangan ini karena kebijakan AS sering menjadi rujukan regulator di negara lain, termasuk Indonesia.
Keempat, pahami risiko ATM crypto. Meskipun ATM crypto belum populer di Indonesia, tren global menunjukkan bahwa mesin-mesin ini sering menjadi target penipuan. Jika Anda menggunakan ATM crypto, pastikan untuk memverifikasi identitas penerima dan tidak pernah mentransfer uang ke pihak yang tidak dikenal atas “instruksi” melalui telepon atau media sosial.
Kasus Bitcoin Depot adalah pengingat bahwa bahkan perusahaan crypto terbesar sekalipun tidak kebal dari risiko regulasi, hukum, dan operasional. Bagi investor individu, pesan utamanya tetap sama: lakukan riset, gunakan platform teregulasi, dan jangan menginvestasikan uang yang tidak mampu Anda rugi.
Sumber: Decrypt, CoinMarketCap, FBI IC3




