Bitcoin mengalami rollercoaster dramatis pada Sabtu (23/5). Kripto terbesar dunia anjlok sekitar 4% ke level $74.300 — terendah sejak 20 April — sebelum melonjak balik ke atas $76.700 setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa perjanjian damai dengan Iran telah “sebagian besar dinegosiasikan.”
Pergerakan tajam ini terjadi di tengah tekanan besar pada ETF Bitcoin spot AS yang membocorkan $2,26 miliar dalam dua minggu terakhir, menjadi outflow terbesar sejak Januari 2026. Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran $76.600, masih turun sekitar 10% dari puncak Mei di $82.500.
Rollercoaster $74.300 ke $77.000: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Penurunan BTC dimulai pada Jumat malam (23/5) dan terus merosot hingga Sabtu pagi ke level $74.300. Pemicu utamanya adalah tekanan jual dari ETF Bitcoin spot AS yang mencatatkan outflow masif selama dua pekan berturut-turut, ditambah kenaikan yield obligasi Treasury yang membuat investor beralih ke aset tradisional.
Namun, narasi berubah total dalam hitungan menit. Trump memposting di Truth Social bahwa kesepakatan damai dengan Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya telah hampir selesai dinegosiasikan. Yang paling krusial bagi pasar: “Selat Hormuz akan dibuka.”
Reaksi pasar instan. Bitcoin melonjak dari $74.000-an ke $76.700 dalam waktu singkat, menghapus seluruh penurunan sebelumnya dan bahkan sedikit melampaui level pembukaan hari itu.
Bagi trader Indonesia di exchange lokal seperti Tokocrypto, Pintu, dan Indodax, pergerakan ini langsung terasa. Harga BTC dalam rupiah ikut berosilasi tajam, mengingatkan kembali betapa sensitifnya pasar kripto domestik terhadap geopolitik global.
ETF Bitcoin Bocor $2,26 Miliar dalam 2 Minggu — Kenapa Investor Kabur?
Outflow $2,26 miliar dari spot ETF Bitcoin AS merupakan angka yang mengkhawatirkan. Ini adalah tekanan terbesar sejak Januari 2026 dan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong BTC turun dari level $82.000-an ke area $74.000.
Beberapa faktor di balik arus keluar ini:
Pertama, kenaikan yield obligasi Treasury AS membuat instrumen pendapatan tetap kembali menarik. Dengan suku bunga Federal Reserve yang masih “higher-for-longer,” banyak investor institusional memilih memarkir dana mereka di obligasi daripada aset berisiko tinggi seperti kripto.
Kedua, ketidakpastian geopolitik dari ketegangan Iran-Israel yang memanas dalam beberapa pekan terakhir mendorong risiko aversi. Ancaman penutupan Selat Hormuz — jalur perdagangan minyak global yang dilalui 20% pasokan minyak dunia — membuat investor waspada terhadap dampak inflasi lanjutan.
Ketiga, ada teori capital redirect ke alternatif investasi lain. Beberapa analis mencatat peningkatan volume perdagangan derivatif pre-IPO SpaceX di platform blockchain, mengindikasikan sebagian modal kripto mungkin berpindah ke spekulasi SpaceX yang dikabarkan akan segera go public.
Trump dan Perjanjian Damai Iran: Plot Twist yang Selamatkan Bitcoin
Sebagaimana dilaporkan CoinDesk, Trump menulis di Truth Social: “An Agreement has been largely negotiated, subject to finalization between the United States of America, the Islamic Republic of Iran, and the various other countries.” Yang paling penting bagi pasar: “In addition to many other elements of the Agreement, the Strait of Hormuz will be opened.”
Pembukaan Selat Hormuz meredakan kekhawatiran tentang suplai minyak global. Harga minyak turun, sentimen risk-on kembali ke pasar, dan Bitcoin menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan dari peralihan ini.
Peristiwa ini menegaskan pola yang sudah berulang: Bitcoin sangat sensitif terhadap berita geopolitik besar. Di saat yang sama, kecepatan pemulihan dari $74.300 ke $76.700 menunjukkan bahwa demand di level bawah masih kuat — ada buyer yang siap masuk saat harga diskon.
Analis: “Underperformance Bitcoin Sudah Berakhir”
Di tengah volatilitas ini, seorang analis berpengalaman mengirimkan sinyal bullish. Mark Connors — mantan global head of portfolio management di Credit Suisse dan kini CIO Risk Dimensions — mengatakan periode underperformance Bitcoin versus pasar saham sudah berakhir.
“Saya pikir underperformance bitcoin versus pasar sudah berakhir,” kata Connors dalam wawancara dengan CoinDesk. “Bitcoin berada dalam fase konsolidasi yang telah bergeser menjadi fase outperformance.”
Menurut Connors, Bitcoin baru saja keluar dari periode underperformance terpanjang dalam sejarahnya melawan S&P 500 — 142 hari yang berakhir pada awal Mei 2026. Ini adalah catatan historis yang penting.
Connors menghubungkan thesis ini dengan kondisi makro saat ini: inflasi yang membandel, harga minyak yang struktural tinggi, dan lingkungan suku bunga “higher-for-longer” yang menekan obligasi tradisional. “Bitcoin, seperti biasanya, menerima pukulan lebih dulu, tapi kemudian selalu keluar sebagai yang pertama,” ujarnya.
Yang menarik, Connors membandingkan situasi saat ini dengan 2020, ketika emas awalnya outperform di awal pandemi sebelum Bitcoin mengalami kebangkitan kuat. “Emas sudah punya jalannya,” katanya. “Bitcoin kini sedang dalam proses kebangkitan kembali.”
Level Kritis Bitcoin ke Depan
Setelah volatilitas hari ini, beberapa level harga menjadi kunci:
Support utama: $74.300 — level rendah hari Sabtu. Jika ditembus ke bawah, $70.000 jadi target berikutnya.
Resistance terdekat: $78.000-$79.000 — area konsolidasi minggu sebelumnya. Di atas level ini, $82.500 (puncak Mei) menjadi sasaran.
Level psikologis: $80.000 — jika BTC bisa kembali ke atas angka ini, narasi bearish jangka pendek bisa mulai runtuh.
Apa yang Perlu Diperhatikan Trader Indonesia
Bagi trader kripto di Indonesia, beberapa hal perlu dipantau dalam beberapa hari ke depan. Finalisasi perjanjian damai Iran — detailnya belum dirilis, dan pasar bisa bergerak lagi jika ada kejutan. Data ETF Bitcoin mingguan — apakah outflow berlanjut atau mulai berkurang. Perkembangan Selat Hormuz — pembukaan selat ini berdampak pada harga minyak global, yang mempengaruhi inflasi dan kebijakan suku bunga.
Ditambah analisis Connors tentang potensi outperformance Bitcoin, trader mungkin mulai melihat level-level saat ini sebagai area akumulasi — meskipun risiko volatilitas jangka pendek tetap tinggi.
Baca juga:
Disclaimer: Artikel ini bukan merupakan saran investasi. Lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan trading. Pasar kripto sangat volatil dan berisiko tinggi.




