HomeTrading & KriptoMark Cuban Jual Sebagian Besar Bitcoin — Kisah Investor Besar yang Kehilangan...

Mark Cuban Jual Sebagian Besar Bitcoin — Kisah Investor Besar yang Kehilangan Keyakinan di ‘Digital Gold’

Date:

Related stories

Jadwal Tayang Monday Night Raw Malam Ini & Info Streaming

Jadwal Tayang Monday Night Raw Malam Ini & Info...

3 Grafik Bandingkan Misi Artemis dan Apollo

Lebih dari setengah abad setelah jejak pertama manusia mengukir...

3 Cek Wajib Setelah Deploy Cloudflare Pages

3 Cek Wajib Setelah Deploy Cloudflare Pages Proses pembangunan situs web modern yang mengandalkan arsitektur static site generation sering kali menghadapi

Zoneless Angular Resmi, Performa Web Makin Cepat

Mengenal Zoneless Angular: Revolusi Performa Web Ekosistem pengembangan frontend global...
spot_imgspot_img

Mark Cuban Jual Sebagian Besar Bitcoin — Kisah Investor Besar yang Kehilangan Keyakinan di “Digital Gold”

Mark Cuban, miliarder investor pemilik kekayaan sekitar $10 miliar, mengakui telah menjual sebagian besar kepemilikan Bitcoin-nya. Alasan yang diberikan cukup mengejutkan: Bitcoin gagal berperan sebagai lindung nilai (hedge) saat ketidakpastian geopolitik melanda — justru sebaliknya, harganya jatuh bersamaan dengan aset berisiko lainnya.

Pengakuan Cuban dalam podcast Portfolio Players dari Front Office Sports ini bukan sekadar perubahan strategi investasi satu orang. Ini adalah sinyal dari retaknya salah satu narasi paling fundamental di dunia kripto: Bitcoin sebagai “emas digital.”

Janji Bitcoin yang Tak Terpenuhi Menurut Cuban

Cuban pernah menjadi salah satu pendukung paling vokal Bitcoin. Pada 2021, ia menyebut Bitcoin sebagai “versi superior dari emas” karena pasokannya yang tetap dan struktur desentralisasinya. Saat itu, portofolio kriptonya terdiri dari 60% Bitcoin, 30% Ethereum, dan 10% aset kripto lainnya.

“Ketika semua itu terjadi dengan perang Iran, Bitcoin seharusnya menjadi alternatif terbaik dari mata uang fiat yang kehilangan nilainya. Saya selalu mengira itu versi emas yang lebih baik dari emas itu sendiri. Ternyata, emas justru meroket — Bitcoin malah turun,” ujar Cuban.

Yang menarik, Cuban tidak kecewa pada semua aset kripto. Ia menyebut masih memiliki harapan pada Ethereum dan ekosistemnya — meskipun dengan nada yang jauh lebih skeptis: “Saya lebih kecewa pada Bitcoin, tidak terlalu kecewa pada Ethereum dan sisanya… sampah.”

Konteks Waktu: Konflik Iran dan Perilaku Aset

Pernyataan Cuban ini hadir di tengah dinamika geopolitik yang memanas. Harga emas memang mencetak kenaikan signifikan saat ketegangan AS-Iran meningkat — sesuai dengan fungsi tradisionalnya sebagai safe haven.

Di sisi lain, Bitcoin justru bergerak sejajar dengan saham teknologi dan aset berisiko lainnya. Data harga menunjukkan Bitcoin turun dari level sekitar $77.000-an saat ketegangan meningkat — bertolak belakang dengan ekspektasi banyak investor yang menganggapnya sebagai pelindung portofolio.

Presiden Donald Trump yang menyebutkan perjanjian damai dengan Iran berada di “tahap akhir” sempat meredakan ketegangan dan mendorong rebound aset berisiko, termasuk Bitcoin yang kembali ke sekitar $77.900.

Apakah “Digital Gold” Benar-Benar Mitos?

Pernyataan Cuban bukan hal baru. Debat tentang apakah Bitcoin berfungsi sebagai store of value atau sekadar aset spekulatif berisiko tinggi sudah berlangsung bertahun-tahun.

Data on-chain justru menunjukkan sesuatu yang menarik: long-term holder (investor yang memegang Bitcoin minimal 155 hari) saat ini menguasai 16,3 juta BTC — mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Ini naik dari 14,12 juta BTC saat Bitcoin mencapai ATH di atas $126.000 pada Oktober 2025.

Dalam sebulan terakhir saja, suplai LTH bertambah sekitar 200.000 BTC. Pola akumulasi serupa terjadi pada bear market 2015 dan 2019, saat investor jangka panjang mulai mengumpulkan kembali setelah mendistribusikan koin mereka di bull market sebelumnya.

Jadi, sementara seorang miliarder menjual, investor ritel dan institusi jangka panjang justru membeli. Siapa yang benar? Sejarah pasar kripto menunjukkan keduanya bisa sama-sama benar — tergantung horizon waktu.

Bitcoin vs Emas: Skor Head-to-Head

Perbandingan langsung dalam periode konflik geopolitik terakhir:

  • Emas: Naik signifikan, sesuai fungsi safe haven
  • Bitcoin: Turun bersamaan dengan aset berisiko, gagal memberikan diversifikasi
  • Dolar AS: Melemah — seharusnya positif untuk Bitcoin, tapi tidak terjadi

Ini mengonfirmasi apa yang sudah lama dicurigai banyak analis: Bitcoin masih diperdagangkan lebih seperti saham teknologi daripada seperti emas. Korelasinya dengan Nasdaq dan S&P 500 tetap tinggi saat sentimen risiko memburuk.

Dampak bagi Trader Indonesia

Bagi trader kripto di Indonesia, kasus Cuban membawa beberapa pelajaran penting — terlebih di tengah kondisi pasar saham Indonesia yang masih tertekan dengan IHSG yang menyentuh level terendah sejak pandemi.

Pertama, jangan percaya mentah-mentah pada narasi investasi — bahkan dari orang paling sukses sekalipun. Cuban sendiri mengakui pergeseran pandangannya. Narasi “digital gold” adalah tesis investasi, bukan hukum fisika.

Kedua, diversifikasi tetap menjadi strategi terbaik. Bahkan Cuban yang dulunya 60% Bitcoin akhirnya memutuskan untuk mendiversifikasi. Trader Indonesia yang menaruh terlalu besar porsi portofolio di satu aset kripto perlu mempertimbangkan ulang alokasi mereka.

Ketiga, pahami konteks pasar saat ini. Bitcoin masih berada di bawah ATH $126.000 dari Oktober 2025 — turun sekitar 38%. Pasar berada dalam fase konsolidasi panjang dengan volatilitas rendah (30-day implied volatility ETH di level terendah 2026: 53%).

Sinyal yang Perlu Diperhatikan Trader

Beberapa data pasar yang layak dipantau minggu depan:

  • Options expiry 29 Mei: Opsi Bitcoin senilai $6,25 miliar akan jatuh tempo di Deribit. Strike price kunci: $75.000 (put) dan $80.000 (call). Posisi $82.000 call menjadi yang paling aktif diperdagangkan — menunjukkan trader masih bertaruh pada breakout.
  • Deribit open interest: Telah mencapai $31,3 miliar, melampaui open interest ETF BlackRock (IBIT) di $27 miliar. Ini menunjukkan minat derivatif yang sangat tinggi.
  • HYPE token: Melonjak 53% dalam 7 hari terakhir, menjadi pemimpin rebound altcoin. Volume harian melonjak 135% ke $1,3 miliar.
  • Altcoin sentiment: Analis “skew” menyebut pasar altcoin sedang di posisi “make or break” — bisa jadi katalis untuk rally berikutnya atau awal koreksi lebih dalam.
  • Earnings Nvidia: Laporan pendapatan Nvidia minggu ini bisa menjadi katalis untuk teknologi AI yang mempengaruhi saham tech — dan secara tidak langsung, harga Bitcoin.

Kesimpulan

Mark Cuban menjual Bitcoin karena kecewa — bukan karena bangkrut. Bagi seorang investor dengan portofolio miliaran dolar, kehilangan $10-20 miliar dari $100 miliar kekayaan adalah hal yang bisa ditoleransi. Tapi bagi trader ritel Indonesia yang mungkin menaruh tabungan pendidikan anak atau dana darurat di Bitcoin, cerita Cuban adalah pengingat: tidak ada aset yang dijamin aman.

Narasi “digital gold” masih diperdebatkan. Data long-term holder menunjukkan akumulasi. Data harga menunjukkan korelasi dengan aset berisiko. Keduanya benar — dan yang menentukan siapa yang menang di akhirnya adalah waktu, bukan keyakinan.

Yang pasti: ketika seorang pendukung lama seperti Cuban mulai menjual, itu bukan sinyal untuk panik. Itu sinyal untuk berpikir ulang — dan memastikan portofolio Anda dibangun di atas data, bukan narasi.

Konteks Pasar Kripto Indonesia Saat Ini

Pernyataan Cuban ini datang di saat pasar kripto Indonesia sedang menghadapi dinamika yang tidak kalah kompleks. Data dari Bappebti menunjukkan volume perdagangan kripto di Indonesia mencapai Rp820 triliun sepanjang 2025 — angka yang turun drastis dari puncak bull market namun masih menunjukkan minat yang signifikan dari investor lokal.

Beberapa platform exchange lokal yang beroperasi di bawah pengawasan Bappebti melaporkan peningkatan aktivitas trading retail dalam dua minggu terakhir, bertepatan dengan volatilitas rendah di pasar global. Pola ini wajar: saat harga stagnan dan volatilitas turun, trader cenderung mencari posisi kecil dengan harapan breakout — persis seperti yang dilakukan trader di Deribit dengan strategi strangle mereka.

Namun, ada satu perbedaan krusial antara trader institusi di Deribit dan trader ritel di Indonesia. Institusi memiliki akses ke instrumen hedging yang kompleks — options, futures, dan structured products — yang memungkinkan mereka membatasi kerugian bahkan saat prediksi meleset. Trader ritel Indonesia, di sisi lain, umumnya terbatas pada spot trading dan margin trading dengan leverage terbatas. Ini membuat manajemen risiko menjadi jauh lebih kritis.

Perbandingan dengan Siklus Sebelumnya

Pola yang terjadi saat ini punya kemiripan mencolok dengan fase pertengahan bear market 2022. Saat itu, harga Bitcoin turun dari ATH $69.000 ke kisaran $16.000 — penurunan sekitar 77%. Di tengah perjalanan turun itu, beberapa tokoh publik juga mulai meninggalkan narasi bullish mereka, mirip dengan apa yang dilakukan Cuban sekarang.

Tapi ada satu perbedaan fundamental: pada 2022, long-term holder supply justru terus bertambah bahkan saat harga hancur. Pola yang sama terjadi sekarang — LTH accumulation di tengah harga yang stagnan di bawah ATH. Dalam kedua kasus, “smart money” jangka panjang membeli saat orang lain takut atau kecewa.

Bukan berarti Cuban salah. Bisa jadi analisisnya benar untuk horizon waktu yang lebih pendek. Tapi sejarah pasar kripto menunjukkan bahwa timing yang tepat untuk exit — atau entry — hampir selalu hanya terlihat jelas dalam hindsight.

Yang Harus Dilakukan Trader Indonesia Minggu Ini

Mengingat semua konteks di atas, berikut langkah-langkah praktis yang bisa diambil trader dan investor kripto Indonesia:

1. Review alokasi portofolio. Jika lebih dari 50% portofolio Anda ada di satu aset — baik itu Bitcoin, Ethereum, atau altcoin manapun — pertimbangkan untuk rebalancing. Diversifikasi bukan tentang memaksimalkan keuntungan, tapi tentang bertahan saat satu tesis investasi terbukti salah.

2. Siapkan skenario untuk options expiry 29 Mei. Dengan $6,25 miliar dalam kontrak opsi yang jatuh tempo, volatilitas bisa melonjak drastis di minggu terakhir Mei. Pastikan posisi Anda tidak terlalu terekspos pada pergerakan harga yang tiba-tiba.

3. Jangan FOMO pada HYPE dan altcoin pump. Kenaikan 53% dalam 7 hari terdengar menggiurkan, tapi ingat: setiap pump besar diikuti oleh profit-taking. Masuk di puncak pump tanpa exit strategy adalah resep kerugian yang sudah terbukti berkali-kali.

4. Pantau korelasi BTC-Nasdaq. Jika Cuban benar tentang Bitcoin yang berperilaku seperti aset berisiko, maka performa Nasdaq dan S&P 500 akan terus mempengaruhi harga BTC. Laporan earnings Nvidia yang dirilis minggu ini bisa menjadi katalis tidak langsung untuk seluruh pasar kripto.

5. Simpan catatan transaksi. Untuk kepatuhan pajak di Indonesia, setiap transaksi kripto harus dilaporkan. Gunakan aplikasi portfolio tracker atau spreadsheet sederhana — yang penting konsisten. Trader yang disiplin mencatat adalah trader yang bisa belajar dari kesalahan masa lalu.

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here