Di kaki Pegunungan Andes, Argentina, sebuah teleskop radio raksasa berdiri tak lengkap. Antenanya yang berdiameter 40 meter menatap langit kosong, tanpa kemampuan menangkap sinyal apapun. Di ruang bawah tanah teleskop, sumpit bekas, kaleng saus tiram, dan teh hijau ditinggalkan oleh teknisi China yang pergi tanpa kepastian kapan bisa kembali.
Teleskop itu adalah bagian dari Observatorium Cesco di Provinsi San Juan, Argentina — proyek senilai 32 juta dollar AS yang seharusnya menjadi teleskop radio terbesar di Amerika Selatan. Namun sejak pertengahan 2025, proyek ini terbengkalai setelah pemerintah Argentina menahan komponen kunci teleskop di bea cukai selama sembilan bulan, di bawah tekanan diplomatik dari Washington.
Pekan Politik di Gurun Atacama
Konflik ini bukan hanya soal satu teleskop. Di seberang perbatasan, di Gurun Atacama Chile — wilayah yang dikenal sebagai lokasi pengamatan astronomi terbaik di Bumi — terjadi hal serupa. Tahun lalu, Chile menghentikan proyek observatorium astronomi China setelah desakan keras dari duta besar Amerika Serikat.
Observatorium di Chile itu seharusnya memiliki 100 teleskop untuk memantau asteroid dan ledakan ekstragalaksi. Universitas Katolik Utara Chile yang menangani proyek itu bahkan sudah membangun jalan menuju puncak gunung yang ditunjuk sebagai lokasi observatorium. Jalan itu kini mengarah ke ketiadaan.
Bernadette Meehan, duta besar AS untuk Chile di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden, menyatakan bahwa menggagalkan proyek observatorium China menjadi salah satu prioritas paling mendesaknya. “Sangat penting bagi pemerintah AS bahwa proyek itu tidak diizinkan,” kata Meehan, seraya menekankan bahwa hubungan kuat dengan Chile dan Argentina krusial untuk “menjaga terhadap upaya China mencari celah strategis yang lebih kuat.”
Kecemasan Washington: Teleskop atau Mata-Mata?
Di balik tekanan diplomatik ini terdapat kekhawatiran mendalam Washington: teleskop radio China di Argentina berpotensi digunakan untuk melacak satelit AS dan berkomunikasi dengan satelit China. Kekhawatiran ini bukan baru — sejak pemerintahan Biden, pejabat Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri telah memantau proyek ini.
Pada Agustus 2021, Jake Sullivan, penasihat keamanan nasional AS, dan Juan Gonzalez, penasihat senior Gedung Putih untuk Amerika Latin, mengangkat isu ini dalam kunjungan ke Buenos Aires. Mereka menyampaikan kekhawatiran kepada Presiden Argentina saat itu, Alberto Fernández, terkait beberapa proyek China termasuk teleskop radio, pelabuhan di Ushuaia, dan stasiun kendali satelit di Neuquén — Patagonia — yang sudah berdiri sejak 2018 dengan sewa tanah gratis selama 50 tahun dari Argentina.
Di bawah pemerintahan Trump, tekanan terus berlanjut. Pada Februari 2025, Menteri Luar Negeri Marco Rubio membahas “kolaborasi antariksa” dengan Menteri Luar Negeri Argentina Gerardo Werthein. Musim semi tahun itu, para ahli dari Laboratorium Sandia di Albuquerque — yang dikelola Departemen Energi AS — terbang ke Buenos Aires untuk memberi briefing kepada pejabat Argentina tentang potensi risiko dari teleskop China.
Perjanjian Dagang yang Mengikat
Washington bahkan memasukkan klausul pembatas dalam perjanjian dagang bilateral baru dengan Argentina. Dokumen tersebut menyatakan bahwa Argentina harus bekerja sama dengan “para ahli teknis pemerintah AS untuk menerapkan langkah-langkah pengendalian yang memadai di instalasi antariksa yang dioperasikan negara lain guna memastikan penggunaan eksklusif untuk tujuan sipil.”
Bagi para astronom Argentina, ini adalah pelajaran politik yang tak terduga. “Kami terjebak dalam lubang hitam politik,” kata Ana Maria Pacheco (61), seorang astronom yang menghabiskan sebagian besar hidupnya mengamati bintang-bintang berjarak tahun cahaya.
Marcelo Segura, koordinator proyek teleskop radio China di Universitas Nasional San Juan, bahkan sudah mempelajari bahasa Mandarin untuk berdiskusi dengan kolega China tentang pekerjaan teleskop. Ia dan timnya berusaha meyakinkan pejabat AS bahwa teleskop itu hanya akan digunakan untuk tujuan sipil. “Tidak berhasil,” katanya.
Kenapa Amerika Selatan Begitu Penting untuk Astronomi?
Amerika Selatan memiliki langit terbersih dan terkering di Bumi — kombinasi sempurna untuk pengamatan astronomi. Gurun Atacama di Chile dan pegunungan Andes di Argentina menawarkan kondisi yang tidak bisa ditiru di belahan bumi manapun: minim polusi cahaya, kelembapan rendah, dan ratusan malam cerah per tahun.
Inilah sebabnya Chile dan Argentina menjadi rumah bagi observatorium kelas dunia: Rubin Observatory (dahulu LSST) di Cerro Pachón yang baru mencapai “first light” pada Juni 2025, ALMA (Atacama Large Millimeter Array), dan puluhan teleskop lain yang dioperasikan oleh institusi Jerman, Rusia, Brasil, dan Amerika Serikat. Observatorium Cesco sendiri didirikan pada 1960-an bekerja sama dengan Universitas Yale dan Columbia.
Teleskop radio yang terbengkalai di San Juan memiliki antena selebar 40 meter — dirancang untuk menangkap gelombang radio tak terlihat dari luar angkasa guna memetakan kelahiran bintang dan galaksi jauh. Jenis teleskop inilah yang memungkinkan astronom menangkap gambar pertama lubang hitam pada 2019.
Respons Beijing: “Ridiculous and Regrettable”
Kedutaan Besar China di Buenos Aires mengeluarkan pernyataan yang menyebut AS “mencari alasan untuk menahan dan menekan China.” Beijing menegaskan bahwa proyek ini bertujuan memajukan kemajuan ilmiah di Argentina dan China, dengan manfaat bagi seluruh umat manusia, dan menyebut posisi Amerika sebagai “konyol dan disesalkan.”
Di Chile, Kedutaan Besar China di Santiago juga mengeluarkan pernyataan serupa, menuduh AS menggunakan teleskop di Chile sendiri sambil memblokir proyek China — sebuah “manifestasi hegemonisme murni dan sederhana.”
Apa Selanjutnya?
Dengan komponen teleskop masih tertahan di pelabuhan Buenos Aires dan proyek di Chile resmi dihentikan, masa depan astronomi internasional di Amerika Selatan berada di persimpangan jalan. Para ilmuwan yang berharap berkolaborasi secara internasional kini harus menghadapi kenyataan bahwa sains tidak pernah benar-benar terpisah dari politik.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan karena BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) juga terus mengembangkan kapabilitas riset antariksa dan astronomi. Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat, menjadi salah satu titik pengamatan penting di Asia Tenggara. Pelajaran dari Amerika Selatan — tentang bagaimana geopolitik bisa mengganggu kolaborasi ilmiah internasional — patut menjadi catatan bagi ekosistem riset Indonesia yang juga bergantung pada kemitraan global.




