China resmi meluncurkan wahana antariksa berawak Shenzhou-23 pada Minggu (24/5/2026) pukul 23:08 waktu lokal dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di barat laut negeri Tirai Bambu. Misi ini membawa tiga astronot yang akan menempati stasiun luar angkasa Tiangong, dengan satu di antaranya dijadwalkan tinggal di orbit selama satu tahun penuh — menandai durasi misi terpanjang dalam sejarah program luar angkasa berawak China.
Kru Shenzhou-23 terdiri dari komandan Zhu Yangzhu, pilot Zhang Yuanzhu, dan spesialis muatan Li Jiaying — mantan petugas kepolisian Hong Kong yang menjadi astronot pertama dari wilayah administrasi khusus tersebut yang berpartisipasi dalam misi luar angkasa China. Keputusan mengenai siapa dari tiga astronot yang akan tinggal selama 12 bulan di Tiangong baru akan diumumkan kemudian, bergantung pada perkembangan dan evaluasi misi, sebagaimana disampaikan oleh China Manned Space Agency (CMSA).
Rekor Durasi Terlama China di Orbit
Misi satu tahun ini merupakan lompatan signifikan bagi program luar angkasa China. Sejak 2021, misi-misi Shenzhou secara rutin mengirimkan trio astronot ke stasiun Tiangong untuk misi berdurasi enam bulan. Peningkatan dari enam bulan menjadi 12 bulan menunjukkan kesiapan China dalam menguji ketahanan fisik dan psikologis manusia selama tinggal jangka panjang di lingkungan mikrogravitasi.
Meski demikian, misi ini belum melampaui rekor dunia untuk durasi tunggal terpanjang di luar angkasa. Rekor tersebut masih dipegang oleh kosmonot Rusia Valeri Polyakov yang menghabiskan 437 hari (sekitar 14,5 bulan) di stasiun luar angkasa Mir pada tahun 1994-1995. Namun bagi China, misi satu tahun ini merupakan tonggak baru yang membuka jalan bagi ambisi yang lebih besar di luar orbit Bumi.
Stasiun Tiangong — yang berarti “Istana Surgawi” — mengorbit pada ketinggian antara 340 hingga 450 kilometer di atas permukaan Bumi. Terdiri dari tiga modul utama, yaitu modul inti Tianhe (“Harmoni Langit”), modul laboratorium Wentian (“Mencari Langit”), dan modul laboratorium Mengtian (“Bermimpi tentang Langit”), stasiun ini berukuran sekitar sepertiga dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Tujuan Ilmiah Misi Satu Tahun
Tujuan utama dari misi satu tahun ini adalah mempelajari efek jangka panjang tinggal di luar angkasa terhadap tubuh manusia. Data yang dikumpulkan akan menjadi landasan penting bagi perencanaan misi-misi berikutnya yang lebih jauh, termasuk rencana pendaratan berawak di Bulan.
Penelitian yang akan dilakukan selama misi mencakup sejumlah bidang:
- Studi dampak mikrogravitasi terhadap kepadatan tulang, massa otot, dan sistem kardiovaskular
- Analisis perubahan psikologis akibat isolasi jangka panjang di lingkungan tertutup
- Pengujian efektivitas protokol olahraga dan nutrisi dalam memperlambat degradasi fisik
- Eksperimen biologi seluler dan kristalografi protein di lingkungan mikrogravitasi
- Pengembangan teknologi pendukung kehidupan untuk misi antarplanet di masa depan
Temuan dari penelitian ini akan sangat berharga, tidak hanya bagi program luar angkasa China, tetapi juga bagi komunitas ilmiah global yang saat ini masih terbatas dalam memahami dampak séjour jangka panjang di luar angkasa.
Perlombaan Menuju Bulan: China vs AS
Peluncuran Shenzhou-23 berlangsung di tengah persaingan luar angkasa yang semakin ketat antara China dan Amerika Serikat. Kedua negara secara aktif mempersiapkan misi pendaratan astronot di permukaan Bulan dalam beberapa tahun mendatang.
NASA menargetkan pendaratan berawak pada tahun 2028 melalui program Artemis, sementara China memasang target serupa untuk tahun 2030. Pada April 2026, empat astronot NASA berhasil完成 misi bersejarah Artemis II — perjalanan berawak pertama mengelilingi Bulan dalam setengah abad terakhir, sekaligus menjadi misi yang membawa manusia terbang lebih jauh dari Bumi dibandingkan sebelumnya.
Di sisi lain, China masih menghadapi tantangan besar untuk mencapai target 2030 mereka. Negara tersebut perlu mengembangkan perangkat keras dan perangkat lunak baru yang sepenuhnya dirancang khusus untuk misi lunar, membuktikan kesiapan misi, serta memastikan astronot mereka — yang terbiasa dengan keamanan relatif di orbit Bumi rendah — dapat melakukan transisi yang lebih berisiko ke permukaan Bulan.
Chief scientist program lunar China, Wu Weiren, menyatakan bahwa timeline publik Beijing sengaja dibuat konservatif. Jika berhasil mendaratkan astronot sebelum 2030, China kemudian berencana membangun pangkalan permanen di Bulan pada tahun 2035, bekerja sama dengan Rusia.
Konteks Misi Sebelumnya
Misi Shenzhou-23 ini datang setelah insiden yang melibatkan misi Shenzhou-20 pada pertengahan 2025. Wahana Shenzhou-20 mengalami kerusakan akibat benturan puing luar angkasa (space debris) di orbit, memaksa China meluncurkan Shenzhou-22 lebih awal pada November 2025 untuk mengevakuasi tiga astronot yang terjebak. Insiden ini menyoroti risiko nyata dari sampah luar angkasa yang semakin memadati orbit Bumi.
Selain itu, China juga sedang melatih dua astronot Pakistan. Salah satunya kemungkinan akan bergabung dengan misi Tiangong yang dijadwalkan tahun ini dalam basis durasi pendek, menandai perluasan kerja sama internasional dalam program luar angkasa China.
Implikasi Global
Misi satu tahun ini mengirimkan sinyal kuat bahwa China serius membangun kehadiran manusia yang berkelanjutan di luar angkasa. Keberhasilan misi ini akan memperkuat posisi China sebagai kekuatan antariksa utama dunia — sejajar dengan AS dan Rusia — serta membuka peluang baru bagi eksplorasi antariksa internasional yang lebih inklusif.
Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, kemajuan program luar angkasa China membuka akses yang lebih luas terhadap teknologi antariksa, data ilmiah, dan potensi kerja sama riset. Seiring memanasnya perlombaan antariksa global, kolaborasi internasional menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa eksplorasi luar angkasa tetap bersifat damai dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia.
Misi Shenzhou-23 bukan sekadar pencapaian teknis bagi China. Ini adalah langkah konkret menuju era baru eksplorasi antariksa berawak — di mana manusia tidak lagi hanya berkunjung ke luar angkasa, tetapi benar-benar tinggal dan bekerja di sana untuk waktu yang sangat panjang.
Editor: Redaksi indfir.com




