Peluncuran keempat roket New Glenn milik Blue Origin gagal total setelah terjadi ledakan spektakuler saat pengujian mesin di landasan peluncuran Cape Canaveral, Florida, pada 28 Mei 2026. Insiden ini bukan hanya setback besar bagi perusahaan Jeff Bezos — tetapi juga mengancam jadwal pendaratan astronot NASA kembali ke Bulan melalui program Artemis.
Ledakan Spektakuler di Cape Canaveral
Insiden terjadi di Launch Complex-36A (LC-36A), Cape Canaveral Space Force Station, Florida. Blue Origin sedang melakukan hot-fire test — pengujian tembakan mesin statis — sebagai persiapan untuk peluncuran keempat roket New Glenn. Alih-alih berjalan lancar, pengujian justru berakhir dengan ledakan dahsyat yang menghasilkan bola api oranye raksasa.
Ledakan itu terlihat dan terasa hingga bermil-mil dari lokasi. Video momen ledakan berhasil diabadikan oleh Spaceflight Now dan dengan cepat viral di YouTube, memperlihatkan kolom api dan asap yang membumbung tinggi dari landasan peluncuran. Untungnya, tidak ada korban jiwa — semua personel Blue Origin yang bertugas di lokasi dilaporkan dalam keadaan aman.
Segera setelah insiden, Blue Origin mengonfirmasi situasi melalui akun X resmi mereka: “Kami mengalami anomali selama pengujian hotfire hari ini. Seluruh personel sudah dipastikan aman. Kami akan memberikan update setelah mengetahui lebih lanjut.”
Apa yang Selamat dan Apa yang Rusak
Beberapa hari setelah ledakan, Blue Origin mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan akses terbatas kembali ke LC-36 dan akan segera mulai membersihkan puing-puing serta menyelidiki penyebab ledakan. Yang menggembirakan, api besar tidak merusak stage pertama New Glenn maupun stage kedua (GS2) yang berada di fasilitas integrasi terdekat.
Kemudian, CEO Blue Origin Dave Limp memberikan update paling lengkap sejauh ini melalui platform X. Kabar baiknya cukup banyak: propellant farm, tangki oksigen cair, hidrogen cair, dan LNG semuanya dalam kondisi baik. Menara penyangga utama memang rusak, tapi bisa diperbaiki di tempat tanpa perlu dibongkar dan diganti total.
Yang juga selamat dari insiden adalah booster bernama “Never Tell Me The Odds” — referensi ikonik dari film Star Wars — serta tiga unit GS2 yang berada di dalam fasilitas integrasi. Limp menyebut ini sebagai “kabar baik” karena tangki-tangki propelan adalah komponen dengan lead time pengadaan yang sangat panjang.
Tidak Ada Backup — Perkiraan Perbaikan 15 Bulan
Masalah terbesar Blue Origin saat ini: mereka tidak memiliki landasan peluncuran cadangan untuk New Glenn. LC-36B baru dalam tahap pekerjaan awal, dan rencana pembangunan fasilitas di Vandenberg Space Force Base, California, masih sebatas rencana di atas kertas.
Menurut analisis Eric Berger dari Ars Technica, Blue Origin telah menginvestasikan bertahun-tahun dan setidaknya ratusan juta dolar untuk membangun LC-36A. Dengan tidak adanya backup pad, perusahaan harus membangun ulang atau menyelesaikan landasan baru — proses yang diperkirakan memakan waktu minimal 15 bulan dalam skenario terbaik.
Salah satu sumber yang memahami proses pembangunan ulang landasan peluncuran menyebut angka 15 bulan sebagai “best case scenario”. Ini bukan estimasi yang ringan — artinya New Glenn kemungkinan tidak akan terbang lagi hingga pertengahan 2027.
Limp sendiri tetap optimistis: “Kami akan terbang lagi sebelum akhir tahun ini,” ujarnya. Namun pernyataan ini bertolak belakang dengan estimasi industri yang jauh lebih pesimistis.
Blue Origin juga mengonfirmasi rencana mereka untuk mengganti sistem transporter-erector saat ini dengan konsep vertical integration — roket akan dirakit sepenuhnya dalam posisi tegak di dalam fasilitas integrasi sebelum digulirkan ke landasan. Ini mirip dengan apa yang dilakukan NASA di Vehicle Assembly Building (VAB) untuk roket SLS program Artemis.
Dampak ke Program Artemis NASA
Ledakan New Glenn memiliki konsekuensi yang jauh melampaui Blue Origin sendiri. Perusahaan ini adalah kontraktor utama Human Landing System (HLS) untuk NASA — sistem yang akan mengantarkan astronot mendarat di permukaan Bulan dalam program Artemis.
Jika New Glenn mengalami keterlambatan signifikan, jadwal pendaratan astronot ke Bulan bisa mundur. Ini bukan masalah sepele — NASA baru-baru ini membuka kembali kompetisi HLS setelah delay berkepanjangan di pengembangan Starship milik SpaceX, yang juga merupakan kontraktor HLS untuk misi Artemis III dan IV.
Jared Isaacman, yang kini menjabat sebagai Direktur NASA, menghadapi situasi yang semakin rumit. Dengan Blue Origin mengalami setback besar dan SpaceX masih berjuang dengan timeline Starship, kedua kandidat utama HLS sama-sama terhambat. Dampak domino dari keterlambatan Blue Origin berpotensi menggeser seluruh timeline program Artemis.
Kompetisi antar perusahaan komersial untuk menjadi penyedia layanan peluncuran andalan NASA kini menjadi semakin ketat. United Launch Alliance (ULA) dengan roket Vulcan mereka juga menjadi pemain yang harus diperhitungkan, meskipun ULA tidak terlibat dalam kontrak HLS.
New Glenn — Roket Raksasa Penantang Starship
New Glenn adalah roket setinggi 320 kaki (98 meter) — roket terbesar kedua di dunia setelah Starship milik SpaceX. Stage pertama ditenagai oleh tujuh mesin BE-4 yang menggunakan bahan bakar oksigen cair dan metana cair (LOX/LCH4). Stage kedua menggunakan dua mesin BE-3U dengan bahan bakar oksigen cair dan hidrogen cair (LOX/LH2).
Blue Origin sebenarnya memiliki rencana untuk konfigurasi super-heavy 9×4 — dengan sembilan mesin BE-4 di stage pertama dan empat mesin BE-3U di stage kedua — yang akan menggandakan kapasitas payload dibanding varian 7×2 standar. Fairing pada konfigurasi ini juga lebih besar, berdiameter 8,7 meter (28,5 kaki) dibandingkan 7 meter pada varian standar.
Namun Limp menegaskan bahwa perusahaan tidak akan langsung beralih ke konfigurasi super-heavy. “Rate manufacturing of 7×2 berjalan baik, dan kami akan terus melanjutkannya sesuai rencana serta menyimpan stage-stage yang sudah diproduksi,” kata Limp. Fokus tetap pada produksi massal konfigurasi yang sudah ada.
Apa Artinya bagi Masa Depan Eksplorasi Antariksa
Insiden ini menyoroti betapa rentannya rantai pasok eksplorasi antariksa modern. Satu ledakan di satu landasan peluncuran bisa berdampak pada jadwal misi bersejarah yang melibatkan ribuan orang dan miliaran dolar anggaran.
Bagi Indonesia, perkembangan program Artemis patut diikuti dengan minat khusus. BRIN dan LAPAN (sebelum merger) telah menunjukkan ketertarikan untuk berpartisipasi dalam program eksplorasi bulan internasional. Jika Indonesia ingin menjadi bagian dari misi kembali manusia ke Bulan, memahami dinamika industri peluncuran komersial — termasuk risiko dan setback seperti ini — adalah langkah awal yang penting.
Pertanyaan besarnya sekarang: apakah realistis mengharapkan pendaratan manusia di Bulan sebelum 2030, ketika dua kontraktor HLS utama sama-sama mengalami delay? Jawabannya akan menentukan wajah eksplorasi antariksa di dekade ini.
Untuk saat ini, Blue Origin berjanji akan terbang lagi — tapi industri antariksa tahu bahwa memperbaiki landasan peluncuran bukan urusan sederhana. 15 bulan mungkin bukan angka yang berlebihan.
Sumber:
- Universe Today — universetoday.com
- Ars Technica — arstechnica.com
- Blue Origin Official Statement — blueorigin.com




