WASHINGTON — Dua proyek eksplorasi antariksa sedang menunjukkan jalan yang sangat berbeda menuju masa depan manusia di luar Bumi. Program Artemis milik NASA membangun fondasi agar astronaut dapat kembali bekerja di Bulan, sedangkan Breakthrough Starshot menawarkan gagasan radikal untuk mengirim wahana mini menuju Alpha Centauri, sistem bintang terdekat dari Tata Surya.
Artemis bergerak melalui roket raksasa, kapsul berawak, dan kerja sama antarnegara. Starshot justru mengandalkan wahana seberat beberapa gram yang didorong sinar laser hingga mendekati seperlima kecepatan cahaya. Perbandingan keduanya memperlihatkan bagaimana eksplorasi antariksa berkembang melalui misi bertahap yang mahal sekaligus eksperimen teknologi berisiko tinggi.
Artemis Mengembalikan Manusia ke Lingkungan Bulan
NASA merancang Artemis sebagai program eksplorasi jangka panjang, bukan sekadar pengulangan pendaratan Apollo. Melalui program ini, badan antariksa Amerika Serikat ingin membangun kemampuan agar astronaut dapat tinggal dan bekerja lebih lama di sekitar Bulan, melakukan penelitian ilmiah, serta menguji teknologi yang kelak dibutuhkan untuk perjalanan manusia menuju Mars.
Tonggak terbaru Artemis terjadi melalui Artemis II, misi berawak pertama dalam program tersebut. Roket Space Launch System atau SLS meluncurkan kapsul Orion bersama empat astronaut pada 1 April 2026. Mereka mengelilingi Bulan sebelum kembali dan mendarat di Samudra Pasifik pada 10 April 2026, setelah menempuh perjalanan sekitar 1,1 juta kilometer.
Kru Artemis II terdiri atas astronaut NASA Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch, serta astronaut Badan Antariksa Kanada Jeremy Hansen. Selama penerbangan sekitar sepuluh hari, mereka menguji sistem pendukung kehidupan, navigasi, komunikasi, pengendalian manual, serta kemampuan Orion melindungi awak ketika memasuki kembali atmosfer Bumi.
“Artemis mengembalikan manusia ke mode eksplorasi dengan wahana antariksa kita,” tulis pengamat antariksa Paul Gilster dalam Centauri Dreams. Namun, ia juga menyoroti biaya SLS yang sangat tinggi dan kebutuhan akan alternatif peluncuran yang memungkinkan penerbangan menuju Bulan dilakukan lebih sering.
Arsitektur Artemis melibatkan sejumlah komponen utama:
- SLS sebagai roket angkut berat untuk meluncurkan Orion dan muatan besar.
- Orion sebagai kapsul yang membawa hingga empat astronaut dalam penerbangan antariksa jauh.
- Human Landing System untuk mengangkut astronaut dari orbit Bulan menuju permukaan.
- Gateway, stasiun kecil di orbit Bulan yang dirancang mendukung misi jangka panjang.
- Wahana robotik, sistem komunikasi, kendaraan permukaan, dan pakaian antariksa generasi baru.
NASA pada Februari 2026 memperbarui rencana Artemis. Artemis III dijadwalkan menjadi misi pengujian sistem pendaratan manusia dan pakaian antariksa di orbit rendah Bumi pada 2027. Pendaratan astronaut di Bulan ditargetkan melalui Artemis IV pada 2028, sebelum dilanjutkan dengan misi permukaan secara berkala.
Starshot Membidik Alpha Centauri
Jika Artemis berfokus pada tujuan yang relatif dekat, Breakthrough Starshot mengarahkan pandangan sejauh sekitar 4,37 tahun cahaya menuju Alpha Centauri. Dengan teknologi roket saat ini, perjalanan ke sistem bintang tersebut dapat memerlukan puluhan ribu tahun. Starshot ingin memangkasnya menjadi sekitar 20 tahun.
Proyek yang diumumkan pada 2016 itu memperoleh pendanaan awal senilai 100 juta dolar AS dari pengusaha Yuri Milner. Tujuan awalnya bukan langsung meluncurkan misi antarbintang, melainkan membuktikan bahwa wahana mini berlayar cahaya dapat dibuat dan dipercepat hingga sekitar 20 persen kecepatan cahaya atau hampir 60.000 kilometer per detik.
Konsep Starshot menggunakan nanocraft yang terdiri atas cip elektronik mini dan layar sangat tipis. Susunan laser berkekuatan tinggi dari Bumi akan diarahkan ke layar tersebut selama beberapa menit. Tekanan dari cahaya laser kemudian mendorong wahana menuju kecepatan yang belum pernah dicapai kendaraan buatan manusia.
Apabila berhasil mencapai Alpha Centauri, armada wahana mini itu diharapkan mengambil gambar, mengukur lingkungan sistem bintang, dan mengumpulkan informasi tentang planet yang mungkin mengorbit di sana. Data kemudian dikirim kembali menggunakan sistem komunikasi laser ringkas. Karena jaraknya, sinyal tersebut masih memerlukan waktu lebih dari empat tahun untuk tiba di Bumi.
Perbedaan Skala dan Tantangan Teknologi
Artemis dan Starshot sama-sama menghadapi persoalan besar, tetapi jenis tantangannya berbeda. Artemis harus menjamin keselamatan manusia, menyediakan oksigen, air, daya, perlindungan radiasi, dan sistem darurat. Setiap komponen harus melewati pengujian ketat karena kegagalan dapat membahayakan awak.
Biaya juga menjadi hambatan utama Artemis. Pengembangan roket, kapsul, sistem pendaratan, Gateway, dan infrastruktur pendukung membutuhkan anggaran pemerintah bernilai puluhan miliar dolar. Program tersebut bergantung pada kesinambungan pendanaan, kemampuan industri, serta kerja sama dengan mitra internasional dan perusahaan swasta.
Starshot tidak membawa manusia dan wahana individualnya sangat ringan. Namun, proyek ini memerlukan terobosan pada material layar, miniaturisasi sensor, penyimpanan energi, navigasi, dan komunikasi antarbintang. Susunan laser juga harus mampu memusatkan energi sangat besar secara presisi pada layar kecil yang bergerak cepat.
Wahana Starshot diperkirakan harus bertahan menghadapi debu antarbintang dalam kecepatan ekstrem. Bahkan tumbukan dengan partikel kecil dapat merusak instrumen. Wahana juga tidak memiliki sistem pengereman yang jelas ketika tiba di Alpha Centauri, sehingga pengamatan kemungkinan dilakukan dalam penerbangan lintas yang sangat singkat.
Implikasi Global bagi Eksplorasi Antariksa
Artemis memperlihatkan bahwa eksplorasi manusia masih bergantung pada investasi negara, kemitraan internasional, dan infrastruktur besar. Keberhasilannya dapat membuka akses lebih rutin menuju Bulan, memperluas penelitian sumber daya, serta memperkuat persaingan strategis antarnegara di ruang angkasa.
Starshot mewakili pendekatan berbeda: mengecilkan wahana dan menggunakan energi dari luar kendaraan untuk mencapai kecepatan sangat tinggi. Teknologi yang dikembangkan untuk proyek tersebut berpotensi menghasilkan manfaat lebih dekat, termasuk komunikasi laser, sensor mini, material ringan, dan metode penggerak baru untuk misi di Tata Surya.
Artemis menawarkan langkah nyata untuk memperluas kehadiran manusia dari Bumi menuju Bulan dan Mars. Breakthrough Starshot mempertanyakan batas terjauh yang dapat dicapai wahana robotik dalam satu generasi. Keduanya menegaskan bahwa masa depan eksplorasi antariksa tidak akan dibangun melalui satu jalan, melainkan melalui kombinasi program besar yang bertahap dan eksperimen berani yang belum terjamin keberhasilannya.




