HomeFilm'The Black Demon: Atlantis': Syuting Film Hiu di 8.600 Kaki

‘The Black Demon: Atlantis’: Syuting Film Hiu di 8.600 Kaki

Date:

Related stories

Teleskop Antariksa Jatuh, Pesawat Robotik Siap Menyelamatkan

Berikut artikel yang sudah ditulis ulang sesuai semua quality...

Layanan Robotaxi Tesla Resmi Beroperasi di Miami

Layanan Robotaxi Tesla Resmi Beroperasi di MiamiTesla resmi meluncurkan...

Using Local Coding Agents

**Menggunakan Coding Agent Lokal dengan Tools Open-Source**Mengapa Coding Agent...

Praperadilan Roy Suryo Dikabulkan Sebagian, Hakim PN Jaksel Nilai Penggeledahan Tidak Sah

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan sebagian permohonan praperadilan yang...

Praperadilan Roy Suryo Dikabulkan Sebagian, Hakim: Penangkapan Tak Sah

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) mengabulkan sebagian permohonan...
spot_imgspot_img

“`html

Film thriller hiu “The Black Demon: Atlantis” menyelesaikan proses syutingnya di Bogotá, Kolombia, pada ketinggian 8.600 kaki di atas permukaan laut. Produksi ini menandai kerja sama keempat antara rumah produksi Mucho Mas Media dengan perusahaan lokal Jaguar Bite di negara Amerika Latin tersebut.

Proses syuting berlangsung selama 27 hari dan baru saja rampung pada 1 Juli 2026, setelah tujuh minggu persiapan intensif. Lokasi syuting meliputi beberapa set yang dibangun di dalam gudang besar dan fasilitas bawah tanah TransMilenio di Bogotá, yang merupakan ibu kota tertinggi ketiga di dunia.

Alasan Kolombia Menjadi Lokasi Syuting

Keputusan untuk memproduksi sekuel ini di Kolombia muncul secara natural. Mucho Mas Media, yang dipimpin oleh Javier Chapa, telah memproduksi tiga film sebelumnya di negara tersebut bersama Jaguar Bite. Film pertama mereka, drama golf “The Long Game,” sebenarnya berlatar Texas. Film kedua, “Rosario,” berlatar New York. Sementara film ketiga, biopik “Jenni,” mengambil latar Long Beach, California.

“Itu sudah menjelaskan banyak hal,” kata Chapa tentang pilihan mereka untuk terus syuting di Kolombia meskipun cerita film-film tersebut tidak berlatar di negara tersebut. Production designer Carlos Osorio, seorang warga Kolombia, yang memperkenalkan Chapa kepada Jaguar Bite. Chapa kemudian terhubung dengan para eksekutif Jaguar Bite, Simón Beltrán dan JP Solano.

“Mereka bukan hanya mitra yang luar biasa, tetapi seiring waktu kami telah mengembangkan bahasa kerja yang efektif dengan mereka. Mereka juga telah menjadi teman dekat dan ada tingkat kepercayaan yang mendalam di antara kami. Itulah alasan utama kami terus kembali,” Chapa menjelaskan.

Plot: Megalodon Kembali Lebih Mematikan

Dalam sekuel ini, megalodon kembali dengan karakteristik “lebih cepat, lebih ganas, dan lebih mematikan dari sebelumnya.” Monster prasejarah itu muncul di sebuah pulau penjara yang berbentuk benteng bernama Atlantis, terletak di tengah Samudra Pasifik.

Cerita mengikuti Jerry Simms, yang diperankan oleh Jack Kesy, seorang agen DEA undercover. Jerry memasuki penjara keamanan maksimum tersebut setelah seorang rekan operatif menghilang saat menyelidiki serangkaian kematian tahanan. Kematian-kematian ini terkait dengan Diego Núñez, diperankan oleh Harold Torres, narapidana paling ditakuti di penjara tersebut.

Pengaruh Diego mirip kultus, didorong oleh rumor kekuatan kuno. Ketika tubuh-tubuh yang ter mutilasi menumpuk dan rumor ritual darah menyebar, penjara jatuh dalam kekacauan. Jerry hanya memiliki satu sekutu: Chato, diperankan oleh Julio César Cedillo, seorang tahanan yang dihantui masa lalu dan mengetahui rahasia tergelap Atlantis.

Situasi memuncak ketika Black Demon legendaris muncul dari kedalaman, mengubah penjara menjadi mimpi buruk yang brutal. Kombinasi antara thriller penjara dan monster hiu memberikan dimensi baru pada genre yang sudah populer ini.

Tantangan Produksi di Ketinggian Ekstrem

Proses produksi “The Black Demon: Atlantis” melibatkan pembangunan tangki air raksasa di dalam gudang. Tim produksi menghadapi tantangan unik karena lokasi syuting di Bogotá yang berada di ketinggian 8.600 kaki. Ketinggian ini tidak hanya memengaruhi kru secara fisik, tetapi juga menciptakan dinamika produksi yang kompleks.

Tim membangun berbagai set, baik kecil maupun besar, yang merupakan kombinasi dari lokasi praktis dan set buatan. Sutradara mengejar tampilan brutalis untuk film ini. Carlos Osorio bekerja sama dengan timnya untuk menciptakan atmosfer penjara yang klaustrofobik dan mengancam.

Pembangunan tangki air besar di dalam gudang memerlukan perencanaan teknis yang matang. Adegan-adegan air dalam film thriller hiu selalu menjadi tantangan logistik, apalagi dilakukan di ketinggian yang memengaruhi tekanan udara dan dinamika air itu sendiri.

Kru Kreatif di Balik Layar

Selain Carlos Osorio sebagai production designer, film ini melibatkan Julio César Cedillo yang juga berperan sebagai aktor. Cedillo, yang dikenal atas karyanya di industri film Meksiko dan Amerika Latin, membawa pengalaman mendalam ke dalam proyek ini. Harold Torres, yang memerankan Diego Núñez, juga merupakan aktor berpengalaman dengan portofolio kuat di sinema Amerika Latin.

Jack Kesy kembali memerankan Jerry Simms setelah tampil di film pertama “The Black Demon” tahun 2021 bersama Josh Lucas. Kelanjutannya ini memperkenalkan karakter-karakter baru dengan latar belakang yang kompleks, menambah kedalaman naratif di luar sekadar film monster biasa.

Kerja sama antara Mucho Mas Media dan Jaguar Bite telah menghasilkan model produksi yang efisien. Mereka membangun kapasitas produksi lokal di Kolombia, menciptakan infrastruktur yang memungkinkan film-film dengan kualitas internasional diproduksi di negara tersebut.

Konteks Industri Film Kolombia

Pilihan Kolombia sebagai lokasi produksi berulang kali oleh Mucho Mas Media mencerminkan tren lebih luas dalam industri film global. Negara-negara Amerika Latin semakin menarik bagi produser internasional karena kombinasi biaya produksi yang kompetitif, insentif pajak, dan talenta lokal yang berkualitas.

Jaguar Bite, yang dipimpin oleh Simón Beltrán dan JP Solano, telah membuktikan kemampuannya untuk menangani produksi berskala internasional. Keahlian mereka dalam mengelola logistik kompleks dan menyediakan fasilitas yang memadai membuat mereka menjadi mitra yang berharga bagi rumah produksi asing.

Keberhasilan empat film berturut-turut di Kolombia menunjukkan bahwa model ini berkelanjutan. Hubungan kerja yang dibangun di atas kepercayaan dan pemahaman bersama memungkinkan efisiensi yang lebih tinggi di setiap proyek berikutnya.

“The Black Demon: Atlantis” sekarang memasuki tahap pascaproduksi. Film ini diharapkan dapat menarik perhatian penggemar genre thriller hiu maupun penonton yang mencari cerita dengan latar eksotis dan produksi bernuansa internasional.

Referensi

“`

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here