HomeGeneralGempa Hari Ini: M5,7 Guncang Sangihe dan M6,2 di Filipina, BMKG Pantau...

Gempa Hari Ini: M5,7 Guncang Sangihe dan M6,2 di Filipina, BMKG Pantau Potensi Tsunami

Date:

Related stories

**Obat Baru Alzheimer Berhasil Pulihkan Ingatan**

MELBOURNE — Peneliti dari Monash University, Australia, mengumumkan terobosan...

Terikat Janji Episode 73: Nyawa Jessica Terancam, Arya Saloka Makin Terdesak

Sinetron Terikat Janji yang tayang di RCTI semakin memacu...

Harga Emas Perhiasan 16 Juni 2026 Naik Lagi, Emas 24K Tembus Level Tertinggi

Harga emas perhiasan kembali mengalami kenaikan pada hari ini,...

Mateus Fernandes Prioritaskan Manchester United, Arsenal dan Real Madrid Ikut Bersaing

Bursa transfer musim panas 2026 semakin memanas dengan persaingan...

Aturan Baru AS: Ideologi Politik Ancam Sains Federal

Pada era 1930-an, Uni Soviet mengalami bencana kelaparan massal...
spot_imgspot_img

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat serangkaian gempa bumi signifikan mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Filipina Selatan dalam beberapa hari terakhir. Gempa berkekuatan magnitudo 5,7 yang berpusat di barat laut Kepulauan Sangihe menjadi guncangan paling kuat yang tercatat di wilayah Sulawesi Utara, sementara gempa bermagnitudo 6,2 melanda Mindanao, Filipina Selatan. Aktivitas seismik yang meningkat ini juga diiringi peningkatan kegempaan vulkanik di Gunung Merapi, Yogyakarta.

BMKG melaporkan gempa bermagnitudo 5,7 berlokasi di 220 kilometer barat laut Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Gempa susulan dengan magnitudo lebih kecil turut mengguncang wilayah yang sama, termasuk gempa bermagnitudo 4,2 yang pusat getarannya berada di Tahuna, ibu kota Kabupaten Kepulauan Sangihe. Serangkaian guncangan ini berlangsung sejak Sabtu (13/6) malam hingga Minggu (14/6), menciptakan kekhawatiran di kalangan warga setempat.

Rentetan Gempa Guncang Kepulauan Sangihe

Wilayah Kepulauan Sangihe mengalami beberapa kali guncangan dalam kurun waktu singkat. Berdasarkan data BMKG, gempa beruntun yang mengguncang Kecamatan Tahuna tercatat mulai Sabtu (13/6) malam. Gempa dengan magnitudo 4,2 menjadi yang paling dirasakan oleh warga, dengan episentrum di sekitar Tahuna.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG menjelaskan bahwa rentetan gempa di wilayah Sangihe berkaitan dengan aktivitas sesar lokal di laut. Meskipun demikian, belum ada laporan kerusakan signifikan maupun korban jiwa dari rangkaian guncangan tersebut. Warga di pesisir Sangihe diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.

Sejumlah warga melaporkan merasakan guncangan cukup kuat di dalam rumah. Beberapa perabotan bergerak dan dinding retak tipis terpantau di beberapa titik, terutama di bangunan tua. Aparat kepolisian dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah melakukan pemantauan dan pendataan kerusakan di lapangan. Posko pengungsian sementara juga disiapkan sebagai langkah antisipasi jika gempa susulan berkekuatan lebih besar terjadi.

BMKG Pantau Potensi Tsunami di Tenggara Bitung

Selain rangkaian gempa di Sangihe, BMKG juga memantau aktivitas gempa yang berpotensi tsunami di perairan tenggara Bitung, Sulawesi Utara, pada Minggu (14/6) pagi. Sistem pemantauan real-time BMKG langsung memetakan lokasi dan magnitudo gempa tersebut, meskipun peringatan dini tsunami tidak diterbitkan karena parameter gempa dinilai belum memenuhi kriteria ancaman tsunami.

BMKG mengaktifkan mekanisme peringatan dini untuk memastikan seluruh wilayah pesisir di sekitar episentrum mendapat informasi terkini. Masyarakat di pesisir Bitung dan Manado diminta mengikuti instruksi evakuasi jika diperlukan, meski pada akhirnya situasi kembali normal tanpa ada guncangan besar lanjutan.

Sistem peringatan dini tsunami Indonesia yang dikelola BMKG mencakup jaringan sensor bawah laut, stasiun pengamatan pasang surut, dan buo tsunami yang tersebar di seluruh wilayah rawan gempa. Data dari sistem ini memungkinkan BMKG mengeluarkan informasi dalam hitungan menit setelah gempa terjadi. Untuk gempa di perairan dalam, proses evaluasi parameter ancaman tsunami biasanya membutuhkan waktu 5 hingga 20 menit sebelum keputusan peringatan diterbitkan.

Gempa M6,2 di Filipina Selatan Angkat Dasar Laut

Pada periode yang berdekatan, gempa bermagnitudo 6,2 mengguncang wilayah Mindanao, Filipina Selatan. Gempa ini tercatat cukup kuat dan dilaporkan menyebabkan perubahan signifikan pada topografi dasar laut di sekitar episentrum. Menurut laporan Kompas.id, dasar laut di area terdampak mengalami pengangkatan hingga dua meter akibat gerakan tektonik yang dihasilkan gempa.

Fenomena pengangkatan dasar laut ini tidak jarang terjadi pada gempa berkekuatan besar di zona subduksi. Perubahan elevasi permukaan laut setempat dilaporkan menyebabkan air surut secara tiba-tiba di beberapa titik pesisir Mindanao sebelum kembali normal. Otoritas Filipina telah mengeluarkan peringatan kepada masyarakat pesisir untuk tidak mendekati area yang terdampak.

Belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa dari gempa Mindanao ini. Namun, beberapa infrastruktur di kota-kota kecil dekat episentrum dilaporkan mengalami kerusakan ringan. Pemerintah Filipina melalui Philippine Institute of Volcanology and Seismology (PHIVOLCS) terus memantau kemungkinan gempa susulan di wilayah tersebut. Tim pencari fakta juga telah dikerahkan untuk menilai tingkat kerusakan secara menyeluruh.

Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi Masih Tinggi

Sementara aktivitas seismik tektonik meningkat di Sulawesi Utara, gunung berapi aktif di Jawa juga menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat puluhan gempa guguran terjadi di Gunung Merapi dalam kurun enam jam terakhir.

Data BPPTKG menunjukkan setidaknya puluhan kali gempa guguran tercatat, diikuti oleh 14 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo antara 2 hingga 29 milimeter. Durasi gempa tercatat antara 20 hingga 62 detik. Pola kegempaan ini mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik di bawah permukaan Merapi masih dalam kondisi tinggi.

BPPTKG merekomendasikan agar radius berbahaya di sekitar puncak Merapi tetap dijaga. Masyarakat yang tinggal di lereng Merapi diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius yang ditentukan dan selalu mengikuti informasi resmi dari BPPTKG maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Status aktivitas Gunung Merapi saat ini masih berada pada tingkat siaga.

Pantauan visual dari pos pengamatan Merapi menunjukkan bahwa kubah lava masih dalam kondisi stabil. Namun, potensi guguran lava pijar ke arah hulu sungai-sungai yang berhulu di Merapi tetap ada. Sejumlah sungai termasuk Kali Gendol, Kali Woro, dan Kali Kuning menjadi area yang perlu diwaspadai oleh masyarakat sekitar.

Seri aktivitas seismik dan vulkanik yang terjadi hampir bersamaan ini menjadi pengingat bahwa wilayah nusantara berada di kawasan rawan bencana geologi. BMKG, BPPTKG, dan lembaga terkait terus memperketat pemantauan dan koordinasi antarinstansi untuk meminimalalkan risiko bencana bagi masyarakat di berbagai wilayah terdampak.

Referensi: BMKG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Tribrata News, Kompas.id, www.merahputih.com

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here