HomeTeknologi**Obat Baru Alzheimer Berhasil Pulihkan Ingatan**

**Obat Baru Alzheimer Berhasil Pulihkan Ingatan**

Date:

Related stories

ATM Bitcoin Dikecam Global, AS dan Kanada Siapkan Regulasi Ketat

Industri anjungan tunai mandiri Bitcoin atau ATM kripto menghadapi...

Gempa Hari Ini: M5,7 Guncang Sangihe dan M6,2 di Filipina, BMKG Pantau Potensi Tsunami

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat serangkaian gempa...

Terikat Janji Episode 73: Nyawa Jessica Terancam, Arya Saloka Makin Terdesak

Sinetron Terikat Janji yang tayang di RCTI semakin memacu...

Harga Emas Perhiasan 16 Juni 2026 Naik Lagi, Emas 24K Tembus Level Tertinggi

Harga emas perhiasan kembali mengalami kenaikan pada hari ini,...

Mateus Fernandes Prioritaskan Manchester United, Arsenal dan Real Madrid Ikut Bersaing

Bursa transfer musim panas 2026 semakin memanas dengan persaingan...
spot_imgspot_img

MELBOURNE — Peneliti dari Monash University, Australia, mengumumkan terobosan signifikan dalam penanganan penyakit Alzheimer. Sebuah obat berbasis tembaga bernama Cu(ATSM) berhasil memulihkan ingatan dan membersihkan protein beracun dari otak dalam uji praklinis, membuka harapan baru bagi puluhan juta penderita demensia di seluruh dunia.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ACS Chemical Neuroscience pada 14 Juni 2026 itu menunjukkan bahwa senyawa tembaga diacetyl bis(4-methyl-3-thiosemicarbazone) atau Cu(ATSM) mampu memperbaiki sistem pembuangan limbah di otak yang rusak pada pasien Alzheimer. Ini adalah studi pertama yang membuktikan bahwa Cu(ATSM) dapat meningkatkan pompa pembersih pada sawar darah-otak (blood-brain barrier) secara signifikan.

Mekanisme Kerja Cu(ATSM) di Otak

Penyakit Alzheimer disebabkan oleh akumulasi protein beracun yang disebut amyloid-beta di dalam otak. Dalam kondisi normal, otak membuang protein ini ke aliran darah melalui sawar darah-otak menggunakan pompa molekuler bernama P-glikoprotein (P-gp). Namun pada pasien Alzheimer, pompa-pompa ini melemah secara drastis sehingga protein beracun menumpuk dan merusak sel-sel saraf.

Tim peneliti yang dipimpin Dr. Jae Pyun dari tema Drug Delivery, Disposition and Dynamics di Monash Institute of Pharmaceutical Sciences menemukan bahwa Cu(ATSM) mampu meningkatkan kelimpahan pompa P-gp sebesar 24,1 persen. Peningkatan ini memungkinkan otak untuk akhirnya membuang limbah protein yang terjebak selama ini.

“Ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa Cu(ATSM) dapat meningkatkan kelimpahan pompa pembersih P-gp dalam model Alzheimer, secara efektif menghubungkan perbaikan sawar darah-otak dengan penurunan protein beracun dan peningkatan fungsi kognitif,” kata Dr. Pyun dalam keterangan resminya.

Hasil Uji Coba: 56 Hari yang Mengubah Paradigma

Dalam eksperimen menggunakan model tikus Alzheimer familial tipe APP/PS1, pengobatan dengan Cu(ATSM) selama 56 hari menghasilkan temuan yang mencengangkan:

  • Penurunan protein amyloid-beta beracun sebesar 42 persen
  • Peningkatan kemampuan belajar spasial (orientasi ruang) sebesar 44 persen
  • Perbaikan fungsi sawar darah-otak yang sebelumnya rusak
  • Peningkatan kelimpahan pompa P-glikoprotein sebesar 24,1 persen

Hasil ini menunjukkan bahwa Cu(ATSM) tidak hanya mengurangi penumpukan protein, tetapi juga secara langsung memperbaiki mekanisme pembuangan limbah otak yang rusak. Perbaikan ini berdampak pada pemulihan fungsi kognitif, khususnya kemampuan navigasi dan memori spasial pada subjek uji.

“Dengan memperbaiki pompa-pompa ini, otak akhirnya bisa membersihkan limbah yang terperangkap,” tambah Dr. Pyun. “Pengobatan ini berhasil melibatkan pembuluh darah otak untuk menurunkan kadar protein beracun, yang menghasilkan perbaikan perilaku.”

Potensi Transisi Cepat ke Uji Klinis Manusia

Salah satu keunggulan utama Cu(ATSM) dibandingkan kandidat obat Alzheimer lainnya adalah riwayat pengujian keamanannya yang sudah maju. Senyawa tembaga ini memiliki sifat anti-inflamasi dan neuroprotektif yang telah diuji dalam uji klinis untuk penyakit lain.

Profesor Joseph Nicolazzo, penulis senior penelitian ini, menjelaskan bahwa Cu(ATSM) sudah melewati tahap evaluasi keamanan untuk kondisi seperti penyakit Parkinson dan amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Hal ini berarti proses transisi ke uji klinis pada manusia untuk Alzheimer berpotensi berjalan lebih cepat dibandingkan obat baru yang belum pernah diuji sama sekali.

“Senyawa ini memiliki potensi kuat untuk segera beralih ke klinik manusia karena sudah menjalani evaluasi keamanan untuk penyakit lain,” ujar Prof. Nicolazzo.

Urgensi Penanganan Alzheimer Global

Temuan ini datang di saat dunia sangat membutuhkan terapi efektif untuk Alzheimer. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 55 juta orang hidup dengan demensia di seluruh dunia, dengan sekitar 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Penyakit Alzheimer merupakan penyebab paling umum demensia, menyumbang 60-70 persen dari total kasus.

Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang mampu memulihkan penurunan kognitif secara andal pada pasien Alzheimer. Obat-obatan yang tersedia umumnya hanya memperlambat gejala, bukan mengatasi akar penyakit. Karena itu, pendekatan Cu(ATSM) yang menargetkan mekanisme pembuangan protein beracun dianggap sebagai strategi yang benar-benar baru.

Relevansi bagi Indonesia

Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara juga menghadapi tantangan demensia yang semakin serius. Data Alzheimer’s Disease International memperkirakan jumlah penderita demensia di Indonesia akan terus meningkat seiring penuaan populasi. Temuan dari Monash University ini memberikan harapan bahwa di masa depan, pasien Alzheimer di Indonesia juga bisa mendapatkan akses ke terapi yang lebih efektif.

Para ahli kesehatan di Tanah Air perlu mengikuti perkembangan penelitian ini dengan saksama, terutama terkait potensi uji klinis multinasional yang mungkin melibatkan pusat-pusat medis di Asia.

Catatan Penting: Masih Tahap Praklinis

Meskipun hasilnya menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa Cu(ATSM) masih berada pada tahap praklinis dan belum diuji pada manusia untuk indikasi Alzheimer. Banyak terapi yang tampak menjanjikan dalam model laboratorium gagal berhasil dalam uji klinis manusia. Masyarakat diingatkan untuk tidak mengonsumsi suplemen tembaga atas inisiatif sendiri sebagai upaya pencegahan atau pengobatan Alzheimer tanpa konsultasi dokter.

Tembaga adalah elemen penting untuk fungsi otak, tetapi kadar yang berlebihan atau tidak terkontrol justru berpotensi menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan sel saraf. Pengawasan klinis yang ketat akan diperlukan jika senyawa ini masuk ke fase uji coba pada manusia.

Langkah Selanjutnya

Tim peneliti Monash University kini berfokus pada persiapan tahap uji klinis untuk Alzheimer. Dengan basis data keamanan yang sudah ada dari uji coba untuk Parkinson dan ALS, mereka optimistis dapat memulai fase awal pengujian pada manusia dalam waktu dekat. Penelitian lanjutan juga akan mengeksplorasi apakah Cu(ATSM) efektif untuk jenis demensia lain yang melibatkan penumpukan protein abnormal di otak.

Sumber: Monash University

**Ringkasan artikel:**
– **Kategori:** Technology
– **Topik:** Obat tembaga Cu(ATSM) untuk Alzheimer — terobosan Monash University
– **Word count:** ~870 kata
– **Struktur:** 7 sub-header H2, bullet list hasil penelitian, konteks Indonesia, catatan kehati-hatian
– **Sumber:** Diatribusi sesuai format indfir.com

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here