Jakarta — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,5 mengguncang wilayah selatan Banten pada Rabu (8/7/2026) dini hari. Pusat gempa terletak di laut, tepatnya 122 kilometer arah barat daya Kabupaten Pandeglang, Banten. Getaran terasa cukup kuat hingga membuat warga di pesisir Sumur berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 02:44:53 WIB. Episenter berada di wilayah Selat Sunda pada kedalaman dangkal. BMKG dengan tegas menyatakan bahwa gempa tidak berpotensi tsunami sehingga tidak perlu ada evakuasi besar-besaran ke dataran tinggi.
Warga Panik Saat Guncangan Terasa
Guncangan gempa terasa keras di wilayah pesisir Sumur, Pandeglang. Banyak warga yang sedang tertidur tiba-tiba terbangun dan langsung berlari ke luar rumah untuk mencari ruang terbuka. Sejumlah rumah dan bangunan di sekitar episenter dilaporkan mengalami kerusakan ringan, seperti retakan pada dinding dan plafon yang runtuh.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menjelaskan bahwa gempa ini merupakan gempa tektonik yang dipicu aktivitas sesar aktif di zona subduksi Selat Sunda. Mekanisme sumber gempa menunjukkan pergeseran lempeng bersifat mendatar (strike-slip). Getaran tersebar ke beberapa wilayah seperti Labuan, Carita, hingga sebagian Lampung dengan skala intensitas III hingga IV MMI di area terdekat pusat gempa.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pandeglang langsung menerjunkan tim untuk melakukan asesmen kerusakan. Hingga Rabu pagi, belum ada laporan korban jiwa, namun sejumlah fasilitas umum seperti sekolah dan masjid diperkirakan terdampak ringan.
Aktivitas Anak Krakatau Turut Meningkat
Peristiwa gempa kali ini menjadi sorotan karena terjadi berdekatan dengan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat lonjakan aktivitas seismik di sekitar gunung api yang terletak di tengah Selat Sunda tersebut dalam beberapa hari terakhir.
PVMBG mengimbau masyarakat yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda untuk tetap waspada terhadap kemungkinan aktivitas susulan, baik gempa tektonik maupun erupsi vulkanik. Status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level II atau Waspada, dengan radius aman dua kilometer dari kawah aktif.
Wilayah Selat Sunda memang dikenal sebagai zona geologi aktif karena merupakan area pertemuan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Kombinasi aktivitas tektonik dan vulkanik menjadikan kawasan ini perlu pemantauan intensif oleh para ahli geologi.
Rangkaian Gempa di Berbagai Wilayah
Selain gempa utama di Banten, Indonesia diguncang serangkaian gempa di berbagai penjuru dalam sepekan terakhir. Pada Senin (6/7/2026), gempa bermagnitudo 5,9 mengguncang barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara pada pukul 15:11 WIB. Gempa ini cukup dalam sehingga guncangan di permukaan tidak terlalu merusak.
Sebelumnya, Sabtu (4/7/2026), gempa bermagnitudo 3,7 terjadi di barat daya Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Gempa ringan ini tidak menyebabkan kerusakan berarti. Kemudian Rabu malam (8/7/2026), gempa bermagnitudo 2,4 mengguncang Kabupaten Garut, Jawa Barat dengan pusat gempa di laut selatan.
Terbaru, dini hari Kamis (9/7/2026) pukul 02:48:10 WIB, gempa bermagnitudo 3,9 tercatat mengguncang Maluku Tenggara Barat. BMKG mencatat pusat gempa berada di laut pada koordinat 6,85 Lintang Selatan. Gempa ini cukup dangkal namun berkekuatan ringan sehingga tidak menimbulkan kerusakan signifikan.
BMKG Desak Kesiapsiagaan Bencana
BMKG terus memantau perkembangan aktivitas seismik di seluruh wilayah Indonesia secara real-time. Masyarakat di wilayah terdempa dan sekitarnya diimbau tetap tenang namun waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang biasanya terjadi dalam 24 hingga 72 jam setelah gempa utama.
BMKG juga mengingatkan pentingnya edukasi kesiapsiagaan bencana. Warga disarankan untuk mengenal jalur evakuasi terdekat dari tempat tinggal dan menyiapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting, makanan darurat, air minum, senter, dan perlengkapan P3K. Struktur rumah juga sebaiknya dicek ketahanannya terhadap guncangan.
Masyarakat dihimbau tidak mudah terpancing informasi hoaks terkait gempa dan tsunami. Seluruh informasi resmi hanya dikeluarkan oleh BMKG melalui kanal komunikasi resmi lembaga tersebut. Pemerintah daerah di beberapa wilayah terdampak telah menginstruksikan jajarannya untuk melakukan asesmen cepat kerusakan infrastruktur dan menyiagakan tim tanggap darurat.
Referensi: BMKG, detikNews, CNN Indonesia, rctiplus.com

