Luca Zidane tampil sebagai sorotan di Piala Dunia 2026 setelah terpilih sebagai penjaga gawang utama Aljazair. Keputusan itu sendiri bukanlah hal yang mengejutkan bagi yang mengikuti kariernya, namun tetap menjadi perbincangan hangat di dunia sepak bola internasional. Bagaimana tidak, putra dari legenda hidup Prancis, Zinedine Zidane, memilih membela tim Afrika Utara alih-alih Les Bleus yang notabene merupakan negara kelahirannya.
Pria berusia 28 tahun itu secara resmi melakukan debut bersama skuad Aljazair pada Oktober 2025. Kini, namanya tercatat dalam daftar pemain yang akan membawa Aljazair berkompetisi di panggung terbesar sepak bola dunia. Kehadirannya membawa beban sekaligus kehormatan, mengingat nama Zidane terakhir kali menghiasi Piala Dunia pada final legendaris 2006 yang dimainkan oleh sang ayah.
Akar Afrika Utara yang Menentukan Arah Karier
Luca Zinedine Zidane lahir pada 13 Mei 1998 di Marseille, Prancis. Sebagai anak dari salah satu pesepak bola terhebat sepanjang masa, tekanan untuk mengikuti jejak sang ayah sudah melekat sejak usia dini. Zinedine Zidane, yang berdarah Aljazair melalui orang tuanya yang berimigrasi ke Prancis, memiliki ikatan kuat dengan negara Afrika Utara tersebut.
Keluarga Zidane berasal dari Kabylie, wilayah pegunungan di utara Aljazair. Warisan budaya dan darah yang mengalir dalam diri Luca menjadi alasan fundamental mengapa ia akhirnya memilih membela Aljazair di level senior. Meskipun tumbuh di Prancis dan menimba ilmu sepak bola di akademi ternama Eropa, panggilan darah terbukti lebih kuat daripada kenyamanan bermain di negara tempat ia dilahirkan.
Perjalanan Karier di Level Klub
Karier profesional Luca tidak lepas dari bayang-bayang nama besar ayahnya. Ia bergabung dengan akademi Real Madrid, klub yang pernah dibela Zinedine Zidane pada era keemasannya di awal 2000-an. Luca menempuh jalur pengembangan di La Fábrica, pusat pelatihan pemuda Real Madrid yang terkenal melahirkan talenta-talenta terbaik.
Sepanjang kariernya di level klub, Luca telah bermain untuk beberapa tim. Ia sempat memperkuat Real Madrid Castilla, tim cadangan Los Blancos, sebelum memutuskan untuk mencari kesempatan bermain lebih reguler di tempat lain. Perjalanannya di level klub mencerminkan upaya seorang pemain muda yang berusaha membuktikan diri bukan sekadar sebagai anak dari seorang legenda, melainkan sebagai atlet dengan kualitas dan identitasnya sendiri.
Dari Tim Muda Prancis ke Panggilan Aljazair
Sebelum memutuskan membela Aljazair, Luca tercatat pernah membela tim muda Prancis. Ia pernah memperkuat Les Bleus di berbagai kategori usia, termasuk level U-17, U-18, U-19, dan U-21. Pengalaman membela tim muda Prancis menunjukkan bahwa federasi sepak bola Prancis sempat melihat potensi besar dalam diri sang penjaga gawang.
Namun, ketika panggilan dari Federasi Sepak Bola Aljazair datang, Luca tidak menolaknya. Proses naturalisasi dan peralihan afiliasi internasional ini dilakukan sesuai regulasi FIFA yang memungkinkan pemain untuk berganti negara jika belum tampil di kompetisi senior resmi bersama negara sebelumnya. Keputusan resmi untuk beralih ke Aljazair diumumkan secara publik dan langsung menarik perhatian media internasional.
Pelatih Aljazair menilai Luca sebagai solusi ideal untuk posisi penjaga gawang yang selama ini menjadi titik lemah timnas mereka. Pengalaman bermain di liga-liga Eropa dan kualitas teknis yang dimilikinya dianggap mampu mengangkat performa defensif Aljazair secara keseluruhan.
Nama Zidane Kembali ke Piala Dunia Setelah 20 Tahun
Momen Luca Zidane tampil di Piala Dunia 2026 membawa dimensi emosional yang kuat bagi dunia sepak bola. Terakhir kali nama Zidane menghiasi panggung Piala Dunia adalah pada final 2006 di Berlin, ketika Zinedine Zidane mengakhiri kariernya dengan cara yang kontroversial setelah menerima kartu merah akibat insiden headbutt terhadap Marco Materazzi.
Kini, dua dekade kemudian, seorang Zidane kembali menginjakkan kaki di turnamen empat tahunan tersebut. Perbedaannya jelas: Luca bukan bermain untuk Prancis sebagaimana sang ayah, melainkan untuk Aljazair, tanah leluhur keluarganya. Narasi ini menambah lapisan cerita yang kaya di Piala Dunia 2026, di mana sepak bola terus membuktikan kemampuannya menyatukan identitas, budaya, dan emosi.
Aljazair versus Argentina: Ujian Pertama di Panggung Dunia
Salah satu pertandingan yang paling dinantikan bagi Luca Zidane adalah saat Aljazair menghadapi Argentina. Laga ini menjadi ujian sesungguhnya bagi sang penjaga gawang, yang harus berhadapan dengan salah satu lini serang paling tajam di dunia. Bagi Luca, pertandingan ini bukan sekadar soal tiga poin di fase grup, melainkan pembuktian bahwa keputusannya membela Aljazair bukanlah pilihan yang keliru.
Tekanan membela nama besar Zidane di Piala Dunia pasti terasa. Setiap bola yang masuk ke gawangnya akan dibandingkan dengan kesalahan sang ayah dua dekade lalu. Setiap penyelamatan gemilang akan disandingkan dengan warisan legendaris Zizou. Namun Luca Zidane tampak siap menghadapi semuanya, dengan keyakinan bahwa ia membangun kariernya sendiri di atas fondasi yang ia bangun dengan keringat dan dedikasi.
Piala Dunia 2026 menjadi kesempatan bagi Luca Zidane untuk menulis bab baru dalam saga keluarga Zidane. Bukan sebagai bayang-bayang sang ayah, melainkan sebagai pemain yang punya identitas dan ceritanya sendiri. Dari Marseille ke panggung dunia, perjalanan Luca Zidane adalah cerita tentang pilihan, identitas, dan keberanian mengikuti panggilan hati di tengah ekspektasi yang begitu besar.
Referensi: USA Today, Diario AS, HITC, www.eldestapeweb.com




