Tari tradisional kembali menjadi perhatian penting di panggung koreografi kontemporer. Dalam beberapa tahun terakhir, para koreografer dari berbagai latar budaya menghidupkan kembali repertoar rakyat, dari gavotte Breton, dabkeh Timur Tengah, tarantella Italia, zortziko Basque, hingga flamenco. Kebangkitan ini tidak muncul sebagai nostalgia semata, melainkan sebagai cara baru membaca tubuh, identitas, memori, dan politik melalui bahasa gerak yang telah lama hidup di masyarakat.
Fenomena tersebut terlihat di sejumlah festival dan ruang pertunjukan Eropa, termasuk June Events, Rencontres chorégraphiques internationales de Seine-Saint-Denis, serta Paris l’été. Banyak karya baru kini menempatkan tradisi sebagai titik berangkat, bukan sebagai ornamen. Para seniman mengolah pola lantai, ritme, nyanyian, tepukan, hentakan kaki, dan bentuk kebersamaan dari tari rakyat ke dalam struktur panggung yang lebih eksperimental.
Tradisi Sebagai Bahan Koreografi Baru
Ketertarikan pada tari tradisional mencerminkan kebutuhan para seniman untuk menemukan kembali makna gestur dalam energi kolektif. Di tengah dunia seni yang lama bergerak menuju abstraksi dan konsep, tubuh tradisional menawarkan sesuatu yang langsung: hubungan dengan tanah, komunitas, upacara, dan ingatan. Gerak yang diwariskan lintas generasi memberi koreografer bahan mentah yang kuat untuk membangun karya kontemporer tanpa kehilangan daya emosional.
Koreografer Spanyol Luz Arcas, misalnya, mengangkat flamenco dalam pertunjukan Mariana. Ia menempatkan folklor Andalusia sebagai jalan untuk menelusuri asal-usul ritual tari. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana flamenco tidak hanya dipahami sebagai gaya panggung, tetapi juga sebagai ruang ekspresi yang menyimpan lapisan sejarah, suara, dan intensitas tubuh.
Di sisi lain, Mithkal Alzghair membawa dimensi politik yang lebih tegas melalui karya Paisiblement. Koreografer kelahiran Suriah itu merujuk pada adat komunitas Druze, kelompok minoritas yang tinggal di wilayah selatan Suriah. Dalam karyanya, tari dan nyanyian menjadi penanda solidaritas, keberanian, serta cara mempertahankan identitas di tengah kekerasan dan ketidakadilan.
Tubuh Sebagai Arsip Memori
Bagi banyak koreografer, tradisi tidak hanya berada di luar tubuh sebagai materi budaya, tetapi juga tersimpan di dalam tubuh sebagai arsip pribadi. Philippe Lebhar menunjukkan hal itu dalam solo pertamanya, Dibbouk. Karya tersebut berangkat dari upayanya mendekati kembali akar budaya Yahudi setelah peristiwa kehilangan dalam keluarganya. Dari pengalaman masa kecil, pesta keluarga, pernikahan, dan tontonan bersama ibunya, ia menggali kembali jejak gestur yang lama tertimbun.
Dalam proses studio, Lebhar menemukan kembali elemen gerak seperti pas de bourrée, fouetté, putaran, dan kilasan langkah yang berkaitan dengan hora Israel. Unsur-unsur itu tidak hadir sebagai kutipan mentah, melainkan sebagai serpihan yang membentuk solo tentang perubahan, kehilangan, dan identitas. Ia menunjukkan bahwa warisan dapat menjadi sumber estetika yang spesifik, sekaligus jalan keluar dari keseragaman bahasa tari kontemporer.
Pendekatan serupa tampak pada Pauline Sonnic dan Nolwenn Ferry dari compagnie C’hoari, yang berbasis di Lorient. Setelah bertemu di Centre national de danse contemporaine d’Angers pada 2015, keduanya memasukkan unsur fest-noz dan tari Breton ke dalam praktik mereka. Dalam duet Tsef Zon(e), mereka memilih gavotte dan bourrée dari ratusan tari Breton, terutama karena bentuk kebersamaan yang melekat di dalamnya.
Energi Kolektif di Atas Panggung
Yang menarik dari tari tradisional bagi banyak seniman bukan hanya bentuk langkahnya, tetapi cara tubuh bergerak bersama. Dalam banyak repertoar rakyat, penari saling menggenggam tangan, menjaga jarak tubuh, menyamakan ritme, dan membangun tenaga bersama. Pola ini memberi pengalaman yang berbeda dari citra tubuh individual yang sering mendominasi kehidupan modern.
Sonnic menggambarkan kekuatan itu sebagai keadaan ketika tubuh mampu melompat lebih tinggi, bergerak lebih lebar, dan mengeluarkan suara lebih penuh karena ditopang kelompok. Daya transformatif semacam ini menjadikan tari tradisional relevan bagi panggung masa kini. Ia menawarkan pengalaman komunal yang hidup, bukan sekadar dokumentasi warisan.
Kolektif Basque Bilaka juga bekerja di wilayah serupa. Sejak 2018, kelompok dari Bayonne itu mengembangkan karya yang bertumpu pada warisan takbenda Basque, baik tari maupun musik. Namun mereka menolak posisi sebagai duta budaya yang sekadar mempertahankan bentuk lama. Bagi Bilaka, yang penting adalah mutasi warisan ritual agar dapat berbicara kepada masa kini.
Dalam karya Dirau, Bilaka menelusuri lompatan jauziak dan gerak berjalan repetitif. Musik tradisional Basque yang kaya ritme menjadi penuntun gerak, tetapi pendekatannya tetap terbuka. Kelompok ini juga mengolah isu gender dengan menghapus pemisahan tradisional antara perempuan dan laki-laki, serta menghadirkan kostum nonbiner yang terus berubah sepanjang pertunjukan.
Warisan, Gender, dan Politik
Isu gender juga muncul kuat dalam karya Pol Jimenez, seniman Spanyol yang lama meneliti hubungan antara flamenco dan tari kontemporer. Dalam Café de Copla, ia meninjau ulang copla, musik populer awal abad ke-20 yang pernah diambil alih rezim Franco sebagai simbol identitas nasional. Jimenez membawa copla kembali ke wilayah pinggiran, tubuh queer, feminisme, dan ekspresi yang berani.
Dengan selendang besar berumbai, tubuh yang terus berganti karakter, dan pilihan artistik yang menekankan ketelanjangan serta ekses, Jimenez menggeser copla dari citra resmi menuju ruang yang lebih bebas. Karya itu memperlihatkan bagaimana tradisi dapat dibaca ulang untuk membongkar sejarah kekuasaan dan membuka tempat bagi identitas yang selama ini tersisih.
Nada sosial-politik juga menonjol dalam kebangkitan dabkeh. Tari yang ditemukan di Lebanon, Suriah, Yordania, dan terutama Palestina ini telah masuk daftar Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO pada 2023. Dalam Badke (remix), Amir Sabra dan Ata Khatab memperbarui karya lama menjadi pertunjukan yang merespons perang dan pendudukan. Dabkeh di sini tidak berhenti sebagai bentuk tari, melainkan menjadi jembatan emosional menuju rasa identitas nasional.
Masa Depan Tari Tradisional
Koreografer Tunisia Selim Ben Safia turut memperluas peta ini lewat Labes, karya yang menggabungkan breakdance, sirkus, dabkeh, dan tradisi Tunisia. Ia menempatkan empat penampil dalam lanskap panggung yang terinspirasi dari ingatan kawasan Maghrébins di Yerusalem. Lewat gerak pinggul khas tari Tunisia, Ben Safia membuka kembali bagian tubuh yang pernah ia sembunyikan karena rasa malu dan tekanan sejarah kolonial.
Bagi Ben Safia, menggerakkan tubuh tanpa penghakiman adalah tindakan kebebasan. Pernyataan itu merangkum arah besar kebangkitan tari tradisional di panggung kontemporer: tradisi tidak lagi diperlakukan sebagai benda museum. Ia menjadi alat untuk membebaskan tubuh, menghidupkan ingatan, mempertemukan komunitas, membicarakan politik, dan memberi akses baru pada modernitas.
Kebangkitan ini menunjukkan bahwa tari tradisional memiliki masa depan yang kuat ketika berani bergerak bersama zamannya. Dari flamenco hingga dabkeh, dari hora hingga gavotte, repertoar rakyat kembali memikat bukan karena bentuknya dibekukan, melainkan karena terus berubah di tangan koreografer yang melihat tubuh sebagai ruang sejarah, perlawanan, dan penciptaan.




